Di Kepulauan Riau, tantangan pabrik tidak berhenti di dalam area produksi. Begitu produk selesai diproses, perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Produk berpindah dari pulau ke pulau, dari pabrik ke pelabuhan, lalu ke gudang, dan sering kali langsung ke pasar ekspor. Dalam alur seperti ini, kode produksi adalah satu-satunya identitas yang ikut berjalan bersama produk.
Lingkungan kepulauan menghadirkan realitas yang berbeda. Udara asin, kelembapan tinggi, dan waktu transit yang panjang dapat membuat informasi pada kemasan memudar sebelum produk sampai ke tujuan. Jika kode produksi tidak tercetak dengan baik sejak awal, masalah baru akan muncul jauh dari pabrik, ketika koreksi sudah sulit dilakukan.
Kepulauan Riau juga banyak melayani industri ekspor dan Free Trade Zone (FTZ). Artinya, kode produksi tidak hanya dibaca oleh internal pabrik, tetapi juga oleh auditor, mitra luar negeri, dan sistem logistik internasional. Konsistensi format dan keterbacaan kode menjadi bagian dari profesionalisme operasional, bukan sekadar kewajiban administratif.
Selain itu, pabrik di wilayah ini sering mengelola beberapa titik produksi atau gudang di pulau yang berbeda. Tanpa sistem penandaan yang konsisten, identifikasi batch dan waktu produksi bisa membingungkan ketika produk berkumpul kembali di satu titik distribusi.
Dalam kondisi seperti ini, mesin coding berfungsi sebagai penjaga kontinuitas informasi, memastikan setiap produk membawa identitas yang sama kuatnya sejak keluar dari lini produksi hingga tiba di tujuan akhir. Bagi pabrik di Kepulauan Riau, kejelasan kode bukan hanya soal produksi rapi, tetapi soal kepercayaan di sepanjang jalur logistik laut dan ekspor.

GC1400, GC-1600, GC-1700, GC-2600

GT1000, GT1000-i, GT2000, GT2000i

GL1000, GL2000, GL3000

GE1000H, GE2000H, GE3000H

GD1000