Cetak Expired Date Manual? Saatnya Pakai Mesin Otomatis

Table of Contents

PT Ben Sehat TIJ Gressler testimonial 2

Saat produksi masih kecil, mencetak expired date secara manual mungkin terasa cukup. Namun ketika jumlah pesanan mulai meningkat, proses manual sering menjadi hambatan. Hasil cetak bisa berbeda-beda, pergantian batch memakan waktu, dan kualitas coding sangat bergantung pada ketelitian operator.

Masalah seperti ini sering baru terasa ketika produksi mulai berjalan lebih cepat. Kode yang buram, posisi cetak tidak rapi, atau salah input tanggal bisa membuat produk perlu dicek ulang, bahkan berisiko menjadi waste. Dalam kondisi tersebut, bisnis mulai membutuhkan mesin coding otomatis agar proses pencetakan expired date, batch number, dan kode produksi bisa berjalan lebih stabil.

Artikel ini membahas tanda-tanda produksi sudah perlu beralih dari sistem manual ke mesin expired date otomatis, termasuk perbedaan hot stamp manual vs TIJ, serta bagaimana memilih solusi coding yang tepat untuk mendukung produksi yang lebih cepat, rapi, dan konsisten.

Kenapa Cetak Expired Date Manual Mulai Menjadi Masalah?

PT Ben Sehat TIJ Gressler testimonial 2

Cetak expired date secara manual sebenarnya tidak selalu salah. Untuk produksi kecil, cara ini masih bisa digunakan karena jumlah produk belum terlalu banyak dan prosesnya masih mudah dikontrol.

Namun, ketika produksi mulai meningkat, cara manual mulai menunjukkan batasnya. Proses yang awalnya terasa praktis bisa berubah menjadi hambatan karena terlalu bergantung pada operator, membutuhkan waktu lebih lama, dan lebih berisiko menyebabkan kesalahan cetak.

Berikut beberapa masalah yang sering muncul.

1. Hasil cetak bergantung pada operator

Pada proses manual, kualitas cetak sangat dipengaruhi oleh cara kerja operator. Tekanan tangan, posisi cetak, ketelitian saat mengatur tanggal, hingga konsentrasi operator bisa memengaruhi hasil akhir.

Akibatnya, hasil cetak bisa berbeda antara satu operator dengan operator lain.

2. Hasil cetak tidak selalu konsisten

Dalam satu shift, mungkin hasil cetak masih bisa dikontrol. Namun ketika ada pergantian shift atau operator, hasilnya bisa berubah.

Masalah yang sering muncul antara lain:

  • Kode terlalu tipis.
  • Posisi cetak miring.
  • Tanggal kurang jelas.
  • Batch number sulit dibaca.
  • Hasil cetak tidak rata antar produk.

Untuk produk yang sudah masuk tahap distribusi, kode yang tidak konsisten bisa memengaruhi tampilan kemasan dan proses QC.

3. Pergantian tanggal dan batch memakan waktu

Setiap kali ada pergantian produk, operator perlu mengganti expired date, batch number, atau kode produksi secara manual. Proses ini membutuhkan ketelitian agar data yang dicetak tidak salah.

Jika produksi memiliki banyak varian produk atau sering berganti batch, waktu yang terpakai untuk setting bisa semakin besar. Akibatnya, proses produksi menjadi kurang efisien.

4. Risiko salah input atau salah cetak lebih tinggi

Karena banyak proses dilakukan manual, risiko human error juga lebih besar. Kesalahan bisa terjadi saat mengganti tanggal, mengatur batch number, atau menempatkan kode pada kemasan.

Jika kesalahan baru diketahui setelah banyak produk tercetak, dampaknya bisa lebih besar. Produk harus dicek ulang, kemasan bisa terbuang, dan proses packing menjadi tertunda.

5. Sulit mengikuti volume produksi yang meningkat

Saat jumlah produksi bertambah, proses manual akan semakin sulit mengikuti ritme kerja. Operator harus mencetak lebih banyak produk dalam waktu yang sama, sementara kualitas tetap harus dijaga.

Di titik ini, proses manual bisa memperlambat target output harian. Produksi tidak hanya membutuhkan tenaga lebih banyak, tetapi juga waktu tambahan untuk pengecekan dan koreksi.

6. Mulai perlu mesin coding otomatis

Ketika proses manual mulai membuat produksi lambat, hasil cetak tidak konsisten, atau risiko kesalahan meningkat, saatnya mempertimbangkan mesin coding otomatis.

Tanda Produksi Anda Sudah Perlu Mesin Coding Otomatis

PT Ben Sehat TIJ Gressler testimonial

Proses cetak expired date manual mungkin masih cukup saat volume produksi kecil. Namun, ketika produksi mulai meningkat, tanda-tanda kebutuhan mesin otomatis biasanya mulai terlihat dari waktu kerja yang semakin panjang, hasil cetak yang tidak konsisten, dan risiko kesalahan yang lebih sering terjadi.

Berikut beberapa tanda bahwa produksi Anda sudah perlu mempertimbangkan mesin coding otomatis.

1. Volume produksi mulai meningkat

Ketika jumlah produk yang harus diberi expired date, batch number, atau kode produksi semakin banyak, proses manual akan memakan waktu lebih lama. Operator harus mencetak satu per satu, mengecek hasilnya, lalu memastikan kode sudah sesuai.

Jika kondisi ini mulai memperlambat alur kerja, berarti proses coding perlu dibuat lebih stabil. Dengan mesin expired date otomatis, pencetakan kode bisa berjalan lebih cepat dan mengikuti ritme produksi.

Baca juga: Mesin Coding High Speed untuk Produksi Ribuan Produk

2. Hasil cetak sering tidak konsisten

Kode yang terlalu tipis, miring, tidak rata, atau berbeda antar produk adalah tanda bahwa proses manual mulai sulit dikontrol. Masalah ini bisa terjadi karena tekanan operator berbeda, posisi kemasan tidak stabil, atau setting manual kurang presisi.

Hasil cetak yang tidak konsisten dapat memengaruhi tampilan kemasan dan memperlambat proses QC. Untuk produk yang masuk retail, distributor, atau customer besar, kode yang jelas dan rapi menjadi bagian penting dari kualitas kemasan.

3. Pergantian batch terlalu lama

Dalam produksi, pergantian expired date, batch number, atau kode produksi bisa terjadi berkali-kali. Jika semua perubahan masih dilakukan manual, waktu pergantian batch bisa menjadi hambatan.

Semakin sering pergantian produk atau varian, semakin besar waktu yang terbuang untuk setting. Mesin coding otomatis membantu operator mengganti data dengan lebih praktis, sehingga produksi bisa kembali berjalan lebih cepat.

4. Produk sering harus dicek ulang

Jika hasil coding tidak jelas, tim QC perlu melakukan pemeriksaan tambahan. Produk yang seharusnya bisa langsung masuk ke tahap packing atau distribusi harus ditahan lebih dulu untuk memastikan kode sudah benar dan terbaca.

Pengecekan ulang seperti ini membuat alur produksi menjadi lebih panjang. Jika terjadi terus-menerus, proses coding manual bisa menghambat target output harian.

5. Waste kemasan mulai meningkat

Salah cetak, kode tidak rapi, atau expired date yang tidak terbaca bisa membuat kemasan tidak layak digunakan. Jika kesalahan terjadi pada banyak produk, waste kemasan akan semakin besar.

Dalam jangka panjang, waste ini dapat meningkatkan biaya produksi karena perusahaan harus menanggung biaya packaging, waktu rework, dan tenaga tambahan untuk pengecekan ulang.

6. Produksi terlalu bergantung pada operator tertentu

Jika hanya operator tertentu yang bisa melakukan proses coding dengan benar, produksi menjadi kurang fleksibel. Saat operator tersebut tidak masuk, pindah shift, atau digantikan operator baru, kualitas hasil cetak bisa berubah.

Hot Stamp Manual vs TIJ: Apa Perbedaannya?

Aspek Hot Stamp Manual TIJ
Cara kerja Menggunakan tekanan dan panas Menggunakan teknologi inkjet non-contact
Kecepatan Bergantung operator Lebih stabil dan cepat
Konsistensi cetak Bisa berubah tergantung tekanan/operator Lebih konsisten
Risiko kemasan rusak Lebih tinggi pada material tertentu Lebih rendah karena non-contact
Pergantian data Lebih manual Lebih praktis melalui sistem
Cocok untuk Produksi kecil/manual Produksi yang mulai meningkat dan butuh stabilitas

Dampak Jika Terlalu Lama Bertahan dengan Proses Manual

Proses cetak expired date manual memang bisa terlihat lebih hemat di awal. Namun, ketika volume produksi mulai meningkat, biaya sebenarnya tidak hanya dihitung dari alat yang digunakan. Ada waktu operator, risiko salah cetak, rework, waste kemasan, hingga kapasitas produksi yang hilang karena proses berjalan lebih lambat.

Berikut beberapa dampak yang bisa muncul jika produksi terlalu lama bertahan dengan proses manual.

1. Produksi berjalan lebih lambat

Semakin banyak produk yang harus diberi expired date atau batch number, semakin besar waktu yang dibutuhkan jika prosesnya masih manual. Operator harus mencetak satu per satu, mengecek hasilnya, lalu memastikan kode sudah sesuai.

Jika permintaan mulai naik, proses ini bisa menghambat alur produksi dan membuat target output harian sulit tercapai.

2. Risiko salah cetak meningkat

Proses manual sangat bergantung pada ketelitian operator. Kesalahan bisa terjadi saat mengganti tanggal, mengatur batch number, atau menempatkan kode pada kemasan.

Masalah seperti salah tanggal, kode tidak lengkap, atau posisi cetak tidak rapi bisa membuat produk harus diperiksa ulang sebelum masuk ke tahap berikutnya.

3. Tampilan kemasan kurang profesional

Expired date dan batch number adalah bagian dari tampilan produk. Jika hasil cetak terlihat miring, terlalu tipis, tidak rata, atau sulit dibaca, kemasan bisa terlihat kurang rapi.

Bagi produk yang dijual ke retail, distributor, atau customer besar, tampilan kode yang konsisten ikut memengaruhi kesan profesional dan kepercayaan terhadap produk.

4. QC membutuhkan waktu lebih lama

Jika hasil cetak manual tidak konsisten, tim QC perlu melakukan pengecekan lebih detail. Produk yang seharusnya bisa langsung masuk ke tahap packing atau distribusi harus ditahan lebih dulu untuk memastikan kode sudah benar.

Semakin sering hasil cetak perlu dicek ulang, semakin panjang waktu yang dibutuhkan sebelum produk siap dikirim.

5. Waste kemasan bertambah

Salah cetak atau hasil cetak yang tidak layak bisa membuat kemasan tidak bisa digunakan. Jika kesalahan terjadi pada banyak produk, jumlah packaging yang terbuang juga akan meningkat.

Waste ini bukan hanya soal kemasan yang hilang, tetapi juga waktu produksi, tenaga operator, dan biaya rework yang ikut bertambah.

6. Biaya operasional tersembunyi meningkat

Proses manual sering terlihat murah karena tidak membutuhkan investasi mesin di awal. Namun, ada biaya tersembunyi yang sering tidak terlihat, seperti waktu operator, pengecekan ulang, rework, reject, dan produksi yang berjalan lebih lambat.

Jika dihitung dalam jangka panjang, biaya ini bisa menjadi lebih besar dibandingkan menggunakan mesin coding otomatis yang mampu bekerja lebih stabil dan konsisten.

Baca juga: 7 Cara Menghemat Tinta Mesin Coding Industri Secara Efisien

7. Sulit scale up saat permintaan naik

Saat permintaan meningkat, produksi perlu berjalan lebih cepat dan lebih stabil. Jika proses coding masih manual, bisnis akan lebih sulit mengejar volume produksi yang lebih besar tanpa menambah banyak tenaga kerja atau waktu produksi.

Studi Kasus Customer: PT Ben Sehat Sejahtera Beralih dari Manual ke TIJ

PT Ben Sehat TIJ Gressler testimonial 5

Dalam proses produksi, mencetak expired date dan batch number secara manual mungkin masih bisa dilakukan saat volume belum terlalu besar. Namun, ketika produksi mulai meningkat, proses manual seperti hot stamp dapat menimbulkan beberapa tantangan, mulai dari kecepatan kerja, konsistensi hasil cetak, hingga risiko kemasan rusak karena tekanan atau panas.

Hal ini juga dialami oleh PT Ben Sehat Sejahtera. Sebelumnya, proses coding dilakukan secara manual menggunakan hot stamp untuk mencetak informasi seperti batch number dan expired date. Seiring kebutuhan produksi yang berkembang, proses tersebut mulai memiliki keterbatasan karena hasil cetak sangat bergantung pada operator dan membutuhkan waktu lebih lama saat pergantian data.

Insight dari Customer: Saat Konsistensi Cetak Menjadi Kebutuhan Produksi

Dari pengalaman PT Ben Sehat Sejahtera, kebutuhan utama dalam proses coding bukan hanya mencetak lebih cepat, tetapi juga menjaga hasil cetak tetap konsisten. Dalam produksi, kode yang terlalu tipis, kurang rapi, atau tidak terbaca bisa memengaruhi proses QC dan tampilan kemasan.

Dengan menggunakan teknologi TIJ, proses coding menjadi lebih praktis karena pencetakan dilakukan secara non-contact. Artinya, mesin tidak perlu menekan permukaan kemasan seperti pada hot stamp manual. Hal ini membantu mengurangi risiko kemasan rusak, terutama pada material tertentu yang sensitif terhadap tekanan atau panas.

Selain itu, mesin coding otomatis juga memudahkan operator saat mengganti expired date, batch number, atau format kode. Proses yang sebelumnya dilakukan manual dapat dibuat lebih standar, sehingga risiko salah cetak dan perbedaan hasil antar operator bisa dikurangi.

Cara Gressler Membantu Proses Migrasi dari Manual ke Otomatis

PT Ben Sehat TIJ Gressler testimonial 3

Beralih dari proses coding manual ke mesin coding otomatis sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan memilih mesin yang terlihat paling cepat atau paling lengkap fiturnya. Setiap produksi memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga mesin yang dipilih harus sesuai dengan jenis kemasan, volume produksi, format kode, dan kemampuan operator di lapangan.

Berikut cara Gressler membantu proses migrasi agar lebih tepat dan minim risiko.

1. Menganalisis proses coding yang berjalan saat ini

Langkah pertama adalah memahami proses coding yang sudah digunakan. Apakah saat ini masih memakai hot stamp manual, stempel, label manual, atau metode lain. Dari sini, tim Gressler dapat melihat bagian mana yang paling sering menjadi hambatan, seperti proses yang lambat, hasil cetak tidak konsisten, atau pergantian batch yang memakan waktu.

Analisis ini penting agar solusi yang diberikan tidak hanya mengganti alat, tetapi benar-benar menjawab masalah produksi.

2. Mengecek jenis kemasan dan material

Setiap kemasan memiliki karakter berbeda. Plastik, karton, pouch, botol, label, atau kemasan fleksibel membutuhkan pendekatan coding yang berbeda.

Dengan mengecek material kemasan, tim Gressler dapat membantu menentukan teknologi yang paling sesuai agar hasil cetak jelas, cepat kering, tidak mudah luntur, dan tidak merusak permukaan kemasan.

3. Mengecek volume produksi harian

Volume produksi menjadi salah satu faktor utama dalam memilih mesin. Produksi kecil, menengah, dan besar tentu membutuhkan sistem coding yang berbeda.

Untuk produksi yang mulai berkembang, opsi seperti TIJ, handheld printer, atau conveyor system bisa dipertimbangkan. Jika volume semakin tinggi atau line berjalan cepat, teknologi lain seperti CIJ juga bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai.

4. Merekomendasikan mesin yang sesuai

Setelah kebutuhan produksi dipahami, tim Gressler dapat merekomendasikan mesin berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Rekomendasinya bisa berupa TIJ, handheld printer, conveyor, CIJ, atau teknologi lain jika memang dibutuhkan.

Pendekatan ini membantu bisnis memilih mesin yang tidak hanya bisa mencetak expired date, tetapi juga sesuai dengan ritme produksi, jenis kemasan, dan kebutuhan operator.

5. Melakukan test print pada sample kemasan

Sebelum mesin digunakan dalam produksi, test print pada sample kemasan sangat penting. Dari proses ini, bisnis bisa melihat apakah hasil cetak sudah jelas, posisi kode sesuai, tinta menempel dengan baik, dan tampilan kemasan tetap rapi.

Test print juga membantu mengurangi risiko salah pilih mesin, terutama jika material kemasan memiliki permukaan licin, fleksibel, atau sensitif terhadap tekanan dan panas.

6. Instalasi mesin di area produksi

Setelah mesin dipilih, proses instalasi perlu dilakukan dengan tepat. Posisi mesin, sensor, jarak printhead, dan alur produk harus disesuaikan agar mesin bisa bekerja stabil di line produksi.

Instalasi yang tepat membantu mesin bekerja lebih optimal sejak awal dan mengurangi risiko gangguan saat produksi berjalan.

7. Training operator

Migrasi ke mesin otomatis juga membutuhkan kesiapan operator. Karena itu, training menjadi bagian penting dalam proses ini.

Operator perlu memahami cara mengganti expired date, batch number, format kode, menjalankan mesin, serta melakukan pengecekan dasar. Dengan training yang baik, proses produksi tidak terlalu bergantung pada satu operator tertentu dan risiko kesalahan bisa dikurangi.

8. Support teknis setelah pembelian

Setelah mesin digunakan, support teknis tetap dibutuhkan untuk menjaga mesin tetap berjalan dengan baik. Dukungan ini bisa membantu jika ada kendala, kebutuhan maintenance, penggantian consumable, atau penyesuaian setting saat ada perubahan produk.

Sebelum beralih dari proses manual ke mesin otomatis, tim Gressler dapat membantu mengevaluasi jenis kemasan, volume produksi, format kode, dan kebutuhan operator agar mesin yang dipilih sesuai dengan kondisi produksi Anda.

Kesimpulan

Cetak expired date secara manual masih bisa digunakan untuk produksi kecil. Namun, saat volume produksi meningkat, proses manual mulai memiliki batas dari sisi kecepatan, konsistensi hasil cetak, dan risiko kesalahan.

Jika produksi mulai sering terhambat karena pergantian batch, hasil cetak tidak rapi, produk perlu dicek ulang, atau waste kemasan meningkat, itu bisa menjadi tanda bahwa bisnis perlu beralih ke mesin coding otomatis.

Dengan mesin expired date otomatis, proses pencetakan batch number, expired date, dan kode produksi dapat berjalan lebih cepat, rapi, dan stabil. Migrasi dari manual ke otomatis bukan hanya soal mempercepat produksi, tetapi juga membantu menjaga kualitas kemasan, mengurangi ketergantungan pada operator, dan membuat bisnis lebih siap saat permintaan meningkat.

FAQ

1. Apa itu mesin coding otomatis?

Mesin coding otomatis adalah mesin untuk mencetak expired date, batch number, kode produksi, barcode, atau QR code pada kemasan dengan proses yang lebih cepat dan konsisten dibanding cara manual.

2. Kapan produksi perlu beralih dari manual ke otomatis?

Produksi perlu beralih ketika volume mulai meningkat, hasil cetak manual tidak konsisten, pergantian batch terlalu lama, atau risiko salah cetak semakin sering terjadi.

3. Apa perbedaan hot stamp manual vs TIJ?

Hot stamp manual menggunakan tekanan dan panas, sedangkan TIJ menggunakan teknologi inkjet non-contact. TIJ lebih praktis untuk produksi yang membutuhkan hasil cetak rapi, stabil, dan tidak terlalu bergantung pada operator.

4. Apakah mesin expired date otomatis cocok untuk UMKM?

Ya, mesin expired date otomatis cocok untuk UMKM yang produksinya mulai meningkat dan membutuhkan proses coding yang lebih cepat, rapi, serta mudah dikontrol.

5. Apa risiko jika tetap memakai proses coding manual?

Risikonya meliputi produksi lebih lambat, hasil cetak tidak konsisten, salah tanggal atau batch number, waste kemasan meningkat, dan proses QC membutuhkan waktu lebih lama.

6. Apa yang harus dicek sebelum memilih mesin coding otomatis?

Hal yang perlu dicek adalah jenis kemasan, material permukaan, volume produksi harian, format kode yang dicetak, kebutuhan operator, dan support teknis setelah pembelian.

7. Apakah TIJ bisa digunakan untuk mencetak expired date dan batch number?

Ya, TIJ dapat digunakan untuk mencetak expired date, batch number, kode produksi, dan informasi lain pada kemasan tertentu. Namun, tetap perlu disesuaikan dengan material kemasan dan kebutuhan produksi.

Ditulis oleh: Sarah Nabilah
Wawancara dengan: Atik – Penanggung Jawab Apoteker, M Frendi Pratama – Operator Mesin

Tag :

Share artikel ini

Hubungi expert coding & marking kami hari ini

Jelajahi bagaimana continuous inkjet printers Gressler dapat meningkatkan operasional kemasan Anda!

Anda mungkin juga suka artikel ini