Cara Memulai Usaha Produksi Makanan Kemasan dari Nol

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Daftar isi

Pemeliharaan kualitas produk pada industri f&b tantangan manager teknik industri makanan dan minuman

Memulai usaha makanan kemasan tidak hanya soal menemukan resep yang enak dan membuat desain kemasan yang menarik. Ketika produk mulai diproduksi untuk dijual secara luas, ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan, mulai dari proses produksi, legalitas, keamanan pangan, pemilihan kemasan, hingga quality control.

Bagi yang baru memulai, banyaknya tahapan tersebut mungkin terasa membingungkan. Apakah harus mengurus BPOM? Standar produksi apa yang perlu diterapkan? Mesin apa saja yang dibutuhkan? Hingga bagaimana menentukan kemasan dan tanggal kedaluwarsa produk?

Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai jenis produk dan skala usaha. Artikel ini akan membahas langkah-langkah dasar memulai usaha produksi makanan kemasan dari nol, mulai dari menentukan produk hingga mempersiapkannya untuk diproduksi dan dipasarkan.

Apa yang Dimaksud dengan Usaha Makanan Kemasan?

pt priama food gressler geroz cij 5

Usaha makanan kemasan adalah usaha yang memproduksi makanan atau minuman untuk kemudian dikemas sebelum sampai ke konsumen. Kemasan digunakan untuk melindungi produk, menjaga kualitasnya, memudahkan penyimpanan dan distribusi, sekaligus menjadi tempat untuk mencantumkan berbagai informasi produk.

Produk makanan kemasan sangat beragam. Beberapa contoh yang mudah ditemui antara lain:

  • Keripik dalam pouch.
  • Sambal botolan.
  • Kopi bubuk kemasan.
  • Bumbu dan rempah kemasan.
  • Frozen food.
  • Minuman dalam botol atau cup.
  • Cookies dan biskuit.
  • Makanan kaleng.

Namun, setiap produk memiliki kebutuhan produksi yang berbeda. Sambal botolan, misalnya, tentu memiliki proses dan kebutuhan kemasan yang berbeda dengan keripik atau frozen food.

Karakteristik produk tersebut nantinya akan memengaruhi banyak hal, mulai dari proses produksi, pemilihan bahan dan bentuk kemasan, metode penyimpanan, umur simpan, hingga perizinan yang perlu dipenuhi. Karena itu, tidak ada satu metode atau setup produksi yang bisa diterapkan untuk semua jenis usaha makanan kemasan.

Sebelum menentukan mesin, kemasan, atau fasilitas produksi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami karakteristik produk yang akan dibuat dan bagaimana produk tersebut nantinya diproduksi serta dipasarkan.

Apa Saja yang Harus Dipersiapkan untuk Memulai Produksi Makanan Kemasan?

Sebelum mulai memproduksi makanan kemasan, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar produk tidak hanya siap dibuat, tetapi juga memiliki kualitas yang konsisten, aman dikonsumsi, dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Persiapannya pun tidak harus dilakukan sekaligus. Kebutuhan setiap usaha dapat berbeda tergantung jenis produk, skala produksi, metode penjualan, dan proses yang digunakan. Namun, secara umum beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

Tahap Yang Perlu Dipersiapkan
Produk Jenis produk, resep atau formula, dan target konsumen
Proses produksi Bahan baku, tahapan produksi, kapasitas, dan tempat produksi
Standardisasi SOP produksi, kebersihan, dan keamanan pangan
Legalitas NIB serta perizinan produk sesuai ketentuan
Halal Sertifikasi halal sesuai ketentuan yang berlaku
Kemasan Material, bentuk, ukuran, dan kebutuhan perlindungan produk
Label Informasi yang perlu dicantumkan pada kemasan
Quality Control Standar dan pemeriksaan kualitas produk
Peralatan produksi Peralatan manual, semi otomatis, atau mesin sesuai kebutuhan
Distribusi Metode penyimpanan, pengiriman, dan penanganan produk

Misalnya, produk frozen food membutuhkan perhatian pada penyimpanan dan distribusi dalam kondisi dingin. Sementara produk seperti keripik membutuhkan kemasan yang dapat membantu melindungi produk dari udara, kelembapan, dan kerusakan selama distribusi.

1. Tentukan Produk yang Akan Diproduksi

solusi mesin coding untuk kemasan roti tij

Langkah pertama adalah menentukan dengan jelas produk yang ingin dibuat. Hal ini penting karena setiap jenis makanan memiliki karakteristik yang berbeda dan akan memengaruhi kebutuhan produksi pada tahap berikutnya.

Beberapa pertanyaan dasar yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Produk apa yang akan dibuat?
  • Siapa target konsumennya?
  • Bagaimana produk akan dikonsumsi?
  • Apakah produk perlu disimpan pada suhu ruang, dingin, atau beku?
  • Berapa ukuran atau berat produk per kemasan?
  • Berapa target produksi awal per hari atau per bulan?

Sebagai contoh, keripik umumnya membutuhkan perhatian pada kerenyahan dan perlindungan dari udara serta kelembapan. Sambal botolan memiliki karakteristik berbeda karena berbentuk semi cair dan membutuhkan proses pengisian serta kemasan yang sesuai. Sementara itu, frozen food perlu mempertimbangkan penyimpanan dan distribusi pada suhu tertentu agar kualitas produk tetap terjaga.

2. Buat Formula dan Standar Produk yang Konsisten

Setelah menentukan produk, langkah berikutnya adalah membuat formula dan standar produk yang jelas. Tujuannya agar produk yang dibuat hari ini memiliki kualitas yang relatif konsisten dengan produksi berikutnya, terutama ketika jumlah produksi mulai meningkat.

Saat memasak dalam jumlah kecil, takaran seperti “garam secukupnya” atau “masak sampai matang” mungkin masih mudah diterapkan. Namun, cara seperti ini akan sulit dipertahankan ketika produksi dilakukan dalam jumlah besar, dikerjakan oleh beberapa orang, atau dibagi menjadi banyak batch.

Karena itu, produsen dapat mulai membuat standard recipe atau formula standar, yaitu panduan yang menetapkan bahan, takaran, dan proses yang digunakan untuk menghasilkan produk secara konsisten. Beberapa hal yang dapat distandardisasi antara lain:

  • Jenis dan jumlah setiap bahan.
  • Spesifikasi bahan baku dan supplier.
  • Urutan proses produksi.
  • Waktu dan suhu proses.
  • Berat produk per kemasan.
  • Ukuran produk.
  • Tekstur.
  • Warna.
  • Rasa dan aroma.

Misalnya, jika satu batch keripik menggunakan 10 kg bahan baku dengan waktu penggorengan dan suhu tertentu, parameter tersebut sebaiknya dicatat. Ketika produksi berikutnya dilakukan, tim memiliki acuan yang sama dan tidak hanya mengandalkan perkiraan masing-masing operator.

3. Tentukan Produksi Sendiri atau Menggunakan Maklon

hasil cetak mesin coding tij plastik fleksibel makanan 2

Setelah produk dan formulanya mulai terbentuk, tentukan bagaimana produk tersebut akan diproduksi. Secara umum, pelaku usaha dapat membangun proses produksi sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan maklon.

Keduanya memiliki kebutuhan yang berbeda. Pilihan dapat disesuaikan dengan modal, kapasitas produksi, sumber daya manusia, fasilitas yang tersedia, serta rencana pengembangan bisnis.

Produksi Sendiri

Produksi sendiri berarti sebagian besar proses produksi dikelola oleh perusahaan atau pemilik usaha. Cara ini memberikan kontrol yang lebih langsung terhadap proses, mulai dari bahan baku hingga produk selesai dikemas.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, seperti:

  • Tempat dan fasilitas produksi.
  • Tenaga kerja.
  • Peralatan dan mesin produksi.
  • SOP produksi.
  • Sistem Quality Control (QC).
  • Kapasitas produksi.
  • Penyimpanan bahan baku dan produk jadi.
  • Perawatan peralatan.
  • Perizinan dan persyaratan produksi yang sesuai.

Kebutuhan tersebut tidak berarti usaha harus langsung menggunakan fasilitas dan mesin berskala besar. Peralatan dapat disesuaikan dengan jenis produk dan kapasitas produksi, kemudian dikembangkan ketika kebutuhan meningkat.

Maklon Makanan

Maklon makanan adalah sistem ketika pemilik brand bekerja sama dengan perusahaan lain untuk memproduksi produknya. Dengan cara ini, pemilik brand tidak harus membangun dan mengoperasikan seluruh fasilitas produksi sendiri.

Layanan yang diberikan setiap perusahaan maklon dapat berbeda. Ada yang hanya menangani proses produksi, sementara penyedia lainnya dapat membantu mulai dari pengembangan produk, produksi, pengemasan, hingga kebutuhan tertentu terkait perizinan.

Namun, calon pemilik brand tetap perlu memahami beberapa hal seperti kapasitas produksi, standar kualitas, biaya, Minimum Order Quantity (MOQ) atau jumlah minimum pemesanan, serta layanan yang termasuk dalam kerja sama.

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Produksi Sendiri Maklon Makanan
Kontrol proses produksi lebih langsung Produksi ditangani oleh pihak lain
Perlu menyiapkan fasilitas produksi Tidak perlu membangun seluruh fasilitas sendiri
Membutuhkan investasi peralatan sesuai kebutuhan Umumnya terdapat ketentuan MOQ
Operasional produksi dikelola sendiri Bergantung pada fasilitas dan kemampuan mitra
SDM produksi perlu disiapkan sendiri Sebagian proses ditangani tim produsen
Pengembangan kapasitas menjadi tanggung jawab sendiri Kapasitas mengikuti kemampuan perusahaan maklon

4. Siapkan Legalitas Usaha dan Perizinan Produk

Sebelum makanan kemasan dipasarkan, pelaku usaha juga perlu memperhatikan legalitas usaha dan perizinan produknya. Jenis perizinan yang diperlukan dapat berbeda tergantung jenis produk, cara produksi, skala usaha, hingga karakteristik pangan yang dibuat.

Karena itu, jangan langsung beranggapan bahwa semua makanan kemasan cukup menggunakan PIRT atau sebaliknya harus selalu terdaftar di BPOM. Jalur perizinannya perlu disesuaikan dengan karakteristik produk dan ketentuan yang berlaku.

Nomor Induk Berusaha (NIB)

Salah satu legalitas dasar yang perlu dikenal pelaku usaha adalah Nomor Induk Berusaha (NIB). NIB diperoleh melalui sistem Online Single Submission (OSS) dan digunakan sebagai identitas pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya.

NIB juga menjadi bagian penting ketika pelaku usaha akan mengurus perizinan berikutnya. Sebagai contoh, sistem SPP-IRT BPOM telah terintegrasi dengan OSS dan mensyaratkan pelaku usaha memiliki NIB sebelum mengajukan produk melalui sistem tersebut.

Karena itu, bagi yang baru memulai usaha makanan kemasan, pengurusan NIB dapat menjadi salah satu langkah awal sebelum masuk ke perizinan produk yang lebih spesifik.

SPP-IRT atau Izin Edar BPOM?

Setelah legalitas usaha disiapkan, berikutnya tentukan perizinan yang sesuai dengan produk pangan. Secara umum, pelaku usaha makanan kemasan mungkin akan menemukan istilah SPP-IRT, BPOM RI MD, dan BPOM RI ML.

Namun, ketiganya memiliki penggunaan yang berbeda.

BPOM menjelaskan bahwa pangan olahan dapat didaftarkan melalui SPP-IRT atau memperoleh perizinan dari BPOM sesuai persyaratan produk yang bersangkutan. Artinya, tidak semua jenis makanan kemasan dapat didaftarkan melalui SPP-IRT.

Perizinan Gambaran Umum
NIB Identitas pelaku usaha yang diperoleh melalui sistem OSS
SPP-IRT Untuk pangan olahan yang diproduksi Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) dan memenuhi kriteria SPP-IRT
BPOM RI MD Untuk pangan olahan produksi dalam negeri yang masuk dalam ketentuan registrasi BPOM
BPOM RI ML Untuk pangan olahan impor yang masuk dalam ketentuan registrasi BPOM

SPP-IRT sendiri ditujukan untuk jenis pangan tertentu yang memenuhi kriteria dalam Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2024. Misalnya, tidak semua frozen food, pangan dengan penanganan khusus, atau produk yang menggunakan proses tertentu dapat menggunakan jalur SPP-IRT.

Sementara itu, pada produk yang didaftarkan melalui BPOM, kode BPOM RI MD digunakan untuk pangan olahan produksi dalam negeri dan BPOM RI ML untuk pangan olahan produksi luar negeri atau impor.

5. Pahami Standar Produksi dan Keamanan Pangan

Memproduksi makanan dalam jumlah banyak bukan hanya soal membuat produk dengan rasa yang konsisten. Produsen juga perlu memastikan bahwa makanan diproses dalam kondisi yang bersih, aman, dan terkontrol agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan.

Karena itu, sejak awal sebaiknya mulai dibangun kebiasaan produksi yang baik. Misalnya, menjaga kebersihan area produksi, memastikan bahan baku disimpan dengan benar, menggunakan peralatan yang sesuai, menjaga kebersihan pekerja, hingga mencatat proses produksi.

Salah satu standar yang perlu dikenal oleh produsen pangan olahan adalah CPPOB.

Apa Itu CPPOB?

CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik) adalah pedoman yang digunakan untuk memastikan pangan olahan diproduksi secara konsisten sehingga menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan layak dikonsumsi.

Penerapan CPPOB tidak hanya melihat produk akhirnya. Kondisi fasilitas dan proses produksi juga menjadi perhatian, mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk disimpan sebelum didistribusikan.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penerapan produksi pangan yang baik antara lain:

  • Kebersihan fasilitas, termasuk area produksi dan lingkungan di sekitarnya.
  • Kebersihan pekerja, seperti kebersihan diri dan kebiasaan selama menangani produk.
  • Bahan baku, termasuk kualitas, penerimaan, dan penyimpanannya.
  • Peralatan produksi, termasuk kebersihan dan kondisi peralatan yang bersentuhan dengan produk.
  • Penyimpanan, baik untuk bahan baku, bahan kemasan, maupun produk jadi.
  • Proses produksi, agar tahapan kerja dilakukan secara konsisten dan terkendali.
  • Pencegahan kontaminasi, termasuk mencegah produk terpapar sumber kontaminasi selama proses produksi.
  • Dokumentasi, seperti SOP, catatan produksi, pemeriksaan, dan informasi terkait batch produksi.

BPOM menjelaskan bahwa Izin Penerapan CPPOB (IP CPPOB) merupakan dokumen sah yang menunjukkan bahwa sarana produksi pangan olahan telah memenuhi dan menerapkan standar CPPOB dalam kegiatan produksi pangan olahan.

Baca juga: Digitalisasi Produksi Makanan: Dari Data Hingga Keamanan

6. Urus Sertifikasi Halal Sesuai Ketentuan

bpjph logo halal sertifikasi

Sertifikasi halal juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika mempersiapkan usaha makanan kemasan. Sertifikat halal memberikan kepastian bahwa produk telah memenuhi ketentuan jaminan produk halal, sehingga yang diperhatikan bukan hanya produk akhirnya, tetapi juga bahan dan proses yang digunakan.

Hal ini semakin penting bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Berdasarkan ketentuan PP Nomor 42 Tahun 2024, masa penahapan kewajiban sertifikasi halal untuk produk makanan dan minuman UMK berlangsung hingga 17 Oktober 2026. BPJPH menegaskan bahwa implementasi kewajiban tersebut mulai berlaku pada 18 Oktober 2026.

Karena itu, pelaku usaha yang baru memulai produksi makanan sebaiknya sudah memasukkan sertifikasi halal ke dalam persiapan usahanya sejak awal.

Dalam prosesnya, aspek halal tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya bahan seperti daging atau bahan tertentu pada produk akhir. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong, serta proses pengolahan dan fasilitas yang digunakan untuk menghasilkan produk.

Dengan mempersiapkannya sejak awal, pemilihan bahan, supplier, peralatan, hingga proses produksi dapat disusun dengan mempertimbangkan persyaratan halal yang berlaku.

Sertifikasi Halal Self Declare untuk UMK

Untuk pelaku UMK yang memenuhi kriteria tertentu, tersedia mekanisme sertifikasi halal melalui pernyataan halal pelaku usaha atau self declare. Namun, self declare bukan berarti setiap UMK dapat langsung menyatakan produknya halal tanpa melalui proses yang ditentukan.

Dalam Program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) 2026, BPJPH menetapkan sejumlah kriteria bagi UMK yang dapat mengikuti skema ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • Memiliki NIB dengan skala usaha mikro atau kecil.
  • Menggunakan bahan yang telah dipastikan kehalalannya.
  • Memiliki proses produksi yang sederhana dan terjamin kehalalannya.
  • Produk termasuk jenis yang memenuhi kriteria self declare.
  • Proses dan fasilitas memenuhi ketentuan halal yang berlaku.
  • Kehalalan produk diverifikasi oleh Pendamping Proses Produk Halal (PPH).

BPJPH juga menetapkan persyaratan lain terkait fasilitas, bahan, metode pengawetan, teknologi produksi, hingga dokumen pengajuan. Karena itu, pelaku usaha perlu memastikan terlebih dahulu apakah produk dan proses produksinya memenuhi seluruh kriteria self declare.

Jika memenuhi persyaratan, pengajuan sertifikasi halal dapat dilakukan melalui sistem SIHALAL sesuai prosedur BPJPH. Dengan memahami persyaratan halal sejak tahap awal, pelaku usaha dapat mempersiapkan bahan dan proses produksinya dengan lebih terarah sebelum produk dipasarkan.

7. Tentukan Tempat dan Alur Produksi

Manfaat bisnis dari sistem pengelolaan varian yang baik

Setelah standar dan kebutuhan produksi mulai diketahui, langkah berikutnya adalah menentukan tempat serta alur produksi. Tidak cukup hanya menyediakan ruangan dan menempatkan peralatan di dalamnya. Perlu dipikirkan juga bagaimana bahan baku masuk, diproses, dikemas, diperiksa, hingga menjadi produk jadi.

Secara sederhana, alur produksi makanan kemasan dapat digambarkan seperti berikut:

Bahan baku → Penyimpanan → Persiapan → Pengolahan → Pengemasan → Pemeriksaan → Penyimpanan produk jadi

Alur tersebut tentu dapat berbeda tergantung jenis produk. Produksi keripik, misalnya, memiliki tahapan yang berbeda dengan sambal botolan, minuman, atau frozen food. Karena itu, alur produksi sebaiknya disusun berdasarkan proses yang benar-benar dibutuhkan oleh produk.

Penataan alur yang jelas dapat membantu:

  • Mengurangi risiko kontaminasi selama proses produksi.
  • Mempermudah pergerakan bahan, produk, dan pekerja.
  • Menjaga kebersihan area produksi.
  • Mempermudah proses pemeriksaan atau Quality Control (QC).
  • Mengurangi proses pemindahan produk yang tidak diperlukan.
  • Mendukung peningkatan kapasitas ketika volume produksi bertambah.

Sebagai contoh, bahan baku yang baru datang sebaiknya tidak berpindah secara acak melewati area produk yang sudah selesai dikemas. Begitu juga produk jadi perlu ditempatkan pada area penyimpanan yang sesuai sebelum dikirim atau didistribusikan.

8. Tentukan Peralatan dan Mesin Produksi yang Dibutuhkan

Tantangan penerapan gmp di pabrik makanan

Setelah alur produksi dibuat, barulah tentukan peralatan dan mesin yang dibutuhkan pada setiap tahap. Hindari membeli mesin hanya karena umum digunakan di industri makanan. Peralatan sebaiknya dipilih berdasarkan jenis produk, proses produksi, target kapasitas, dan tingkat otomatisasi yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, kebutuhan produksi keripik tentu berbeda dengan sambal botolan. Produksi keripik mungkin membutuhkan slicer, fryer, dan mesin pengemas, sedangkan sambal membutuhkan peralatan untuk menghaluskan bahan, memasak, mengisi produk ke dalam kemasan, hingga menutup botol.

Secara umum, beberapa peralatan yang dapat ditemukan dalam proses produksi makanan antara lain:

Proses Contoh Peralatan
Persiapan bahan Timbangan, slicer, grinder
Mixing Mixer
Pengolahan Oven, fryer, cooker
Filling Filling machine
Pengemasan Sealer atau packaging machine
Coding Coding atau marking system
Pemeriksaan Checkweigher, metal detector
Pemindahan produk Conveyor

Namun, tidak semua usaha membutuhkan seluruh mesin tersebut. Jenis dan jumlah peralatan sangat bergantung pada produk serta skala produksinya.

9. Pilih Kemasan yang Sesuai dengan Produk

Gunakan sistem digital atau integrasi data produksi

Kemasan makanan bukan hanya berfungsi untuk membuat produk terlihat menarik. Fungsi utamanya adalah melindungi produk selama penyimpanan dan distribusi, sekaligus membantu menjaga kualitasnya hingga sampai ke konsumen.

Karena itu, pemilihan kemasan sebaiknya tidak hanya berdasarkan desain, harga, atau bentuk yang sedang populer. Material dan bentuk kemasan perlu disesuaikan dengan karakteristik produk yang akan dikemas.

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • Apakah produk berbentuk cair, padat, bubuk, atau semi cair?
  • Apakah produk memiliki kandungan minyak yang tinggi?
  • Apakah produk sensitif terhadap udara, cahaya, atau kelembapan?
  • Apakah produk disimpan pada suhu ruang, dingin, atau beku?
  • Berapa target umur simpan atau shelf life produk?
  • Bagaimana produk akan disimpan dan didistribusikan?
  • Bagaimana konsumen akan membuka, menggunakan, dan menyimpan kembali produk?

Sebagai contoh, keripik umumnya membutuhkan kemasan yang dapat membantu menjaga kerenyahan dan melindungi produk dari kelembapan. Bentuk kemasan seperti pouch banyak digunakan untuk kebutuhan tersebut.

10. Tentukan Umur Simpan Produk

Sebelum produk makanan dipasarkan, produsen juga perlu mengetahui berapa lama produk dapat disimpan dalam kondisi tertentu. Hal ini berkaitan dengan umur simpan atau shelf life, yaitu periode ketika produk masih dapat mempertahankan keamanan dan mutu sesuai kondisi penyimpanan yang ditetapkan.

Karena itu, tanggal kedaluwarsa sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan perkiraan, misalnya langsung menetapkan produk tahan enam bulan karena produk sejenis memiliki masa simpan tersebut. Perbedaan formula, proses produksi, kemasan, dan penyimpanan dapat membuat umur simpan setiap produk berbeda.

Dalam menentukan umur simpan, beberapa perubahan pada produk dapat menjadi bagian dari evaluasi, seperti:

  • Rasa.
  • Aroma.
  • Warna.
  • Tekstur.
  • Kondisi fisik produk dan kemasan.
  • Kondisi mikrobiologis sesuai karakter produk.
  • Kondisi kimia sesuai karakter produk.
  • Stabilitas produk selama penyimpanan.

Kondisi penyimpanan juga perlu diperhatikan. Produk yang dirancang untuk disimpan pada suhu ruang tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan makanan yang harus disimpan dalam keadaan dingin atau beku. Suhu, kelembapan, paparan cahaya, hingga jenis kemasan dapat memengaruhi perubahan kualitas produk selama penyimpanan.

11. Siapkan Label Produk Sesuai Ketentuan

Industri makanan gressler

Setelah produk dan kemasan mulai siap, langkah berikutnya adalah menyiapkan informasi yang akan dicantumkan pada label. Label makanan bukan hanya tempat untuk menampilkan nama produk dan desain merek, tetapi juga memberikan informasi penting yang dibutuhkan konsumen.

Untuk pangan olahan, BPOM mengatur sejumlah informasi yang paling sedikit perlu dicantumkan pada label, meliputi:

  • Nama produk.
  • Daftar bahan yang digunakan atau komposisi.
  • Berat bersih atau isi bersih.
  • Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau mengimpor.
  • Keterangan halal bagi produk yang dipersyaratkan.
  • Tanggal dan kode produksi.
  • Keterangan kedaluwarsa.
  • Nomor izin edar.
  • Asal-usul bahan pangan tertentu.

Selain informasi tersebut, produk tertentu dapat memiliki persyaratan informasi tambahan sesuai karakteristiknya, seperti petunjuk penyimpanan, informasi alergen, informasi nilai gizi, atau keterangan lainnya.

Secara sederhana, informasi pada sebuah kemasan makanan dapat terlihat seperti berikut:

NAMA PRODUK
Komposisi: …
Netto: …
Kode Produksi: B260901
Baik Digunakan Sebelum: …
Nomor izin edar: …
Diproduksi oleh: …

Contoh tersebut hanya merupakan ilustrasi sederhana. Susunan dan informasi yang perlu dicantumkan dapat berbeda sesuai jenis produk dan ketentuan label yang berlaku.

Perhatikan Tanggal dan Kode Produksi

Salah satu informasi penting yang perlu dipersiapkan adalah tanggal dan kode produksi. Menurut BPOM, informasi ini paling sedikit memberikan riwayat produksi pangan pada kondisi dan waktu tertentu serta dapat berupa nomor batch dan/atau waktu produksi.

Kode produksi juga tidak harus selalu berada dalam satu area dengan desain utama label. BPOM memperbolehkannya dicantumkan pada bagian lain kemasan selama terdapat petunjuk mengenai lokasi kode tersebut. Misalnya:

Kode Produksi: lihat bagian bawah kemasan

atau

Kode Produksi: lihat pada tutup botol.

Hal ini penting dipertimbangkan sejak memilih kemasan karena informasi seperti kode produksi dan keterangan kedaluwarsa dapat berubah mengikuti waktu atau batch produksi. Produsen perlu menentukan sejak awal area kemasan yang akan digunakan untuk mencantumkan informasi tersebut agar tetap mudah ditemukan dan terbaca.

12. Buat Sistem Quality Control Sebelum Produk Dijual

Quality Control (QC) bukan hanya dibutuhkan oleh pabrik besar. Usaha makanan yang baru mulai pun sebaiknya memiliki standar sederhana untuk menentukan apakah produk sudah sesuai sebelum dijual kepada konsumen.

Pertanyaan paling dasarnya adalah:

“Produk yang dianggap bagus dan layak dijual itu seperti apa?”

Jawabannya perlu dibuat sejelas mungkin. Jika standar hanya berdasarkan perkiraan seperti “rasanya sudah enak” atau “kemasannya kelihatan bagus”, hasil pemeriksaan dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Karena itu, tentukan beberapa hal yang perlu diperiksa pada setiap produksi. Misalnya:

  • Berat atau isi produk, apakah sesuai dengan standar yang ditentukan.
  • Warna, apakah konsisten dan tidak menunjukkan perubahan yang tidak diharapkan.
  • Rasa dan aroma, apakah sesuai dengan standar produk.
  • Bentuk atau tekstur, jika menjadi karakteristik penting produk.
  • Kondisi kemasan, apakah bersih dan dalam kondisi baik.
  • Kebocoran atau kerusakan, terutama pada produk cair, saus, minuman, atau kemasan tertutup.
  • Informasi label, apakah sudah sesuai dan dapat dibaca.
  • Kode produksi, apakah tercetak dengan benar dan jelas.
  • Tanggal kedaluwarsa, apakah informasi yang dicantumkan sesuai.

Parameter pemeriksaan tentu dapat berbeda untuk setiap produk. QC keripik, misalnya, dapat memperhatikan kerenyahan dan kondisi kemasan, sedangkan produk minuman mungkin memiliki parameter pemeriksaan yang berbeda.

Gunakan QC Checklist Sederhana

Untuk mempermudah pemeriksaan, bisnis yang baru memulai dapat membuat QC checklist. Checklist ini berisi beberapa poin yang harus diperiksa sebelum produk dinyatakan sesuai dan siap dipasarkan.

Contoh sederhananya:

Pemeriksaan Standar Hasil
Berat produk Sesuai standar produk Sesuai / Tidak
Warna Sesuai standar Sesuai / Tidak
Rasa & aroma Normal Sesuai / Tidak
Kemasan Tidak rusak atau bocor Sesuai / Tidak
Label Lengkap dan terbaca Sesuai / Tidak
Kode produksi Benar dan terbaca Sesuai / Tidak
Kedaluwarsa Benar dan terbaca Sesuai / Tidak

Checklist tidak harus langsung rumit. Yang terpenting, bisnis memiliki standar pemeriksaan yang konsisten dan terdokumentasi. Jika ditemukan produk yang tidak sesuai, produk tersebut dapat dipisahkan terlebih dahulu untuk diperiksa sebelum diputuskan apakah dapat diperbaiki, diproses kembali sesuai prosedur, atau tidak boleh dijual.

13. Buat Sistem Batch dan Pencatatan Produksi

aplikasi mesin coding untuk inner box kardus kemasan produk cij 4

Ketika produksi mulai berjalan secara rutin, setiap kegiatan produksi sebaiknya memiliki pencatatan yang jelas. Jangan hanya mencatat bahwa “hari ini produksi sambal 500 botol”, tetapi buat identitas yang dapat membedakan satu kelompok produksi dengan kelompok lainnya.

Salah satu caranya adalah menggunakan batch number atau nomor batch. Secara sederhana, batch merupakan kelompok produk yang diproduksi dalam kondisi atau periode produksi tertentu.

Misalnya, sebuah usaha memproduksi 500 botol sambal pada 1 Oktober 2026. Produsen dapat membuat identitas batch seperti:

BATCH: SB-011026-A

Kode tersebut hanya contoh ilustrasi. Setiap perusahaan dapat memiliki sistem penomoran batch yang berbeda sesuai kebutuhan dan prosedur internalnya.

Nomor batch kemudian dapat dihubungkan dengan catatan produksi yang lebih lengkap, seperti:

  • Tanggal dan waktu produksi.
  • Jenis serta jumlah bahan baku yang digunakan.
  • Nomor lot bahan baku jika tersedia.
  • Supplier bahan baku.
  • Operator atau tim yang bertugas.
  • Mesin atau line yang digunakan jika relevan.
  • Jumlah produk yang dihasilkan.
  • Hasil pemeriksaan Quality Control (QC).
  • Informasi lain yang diperlukan sesuai proses produksi.

Dengan pencatatan tersebut, produsen memiliki riwayat yang lebih jelas mengenai bagaimana suatu kelompok produk dibuat.

Batch Membantu Traceability Produk

Pencatatan batch berkaitan erat dengan traceability atau ketertelusuran produk. Sederhananya, traceability adalah kemampuan untuk menelusuri informasi dan riwayat suatu produk melalui catatan yang tersedia.

Misalnya, beberapa waktu setelah produk didistribusikan ditemukan masalah pada sambal dengan kode SB-011026-A. Melalui catatan batch, produsen dapat memeriksa kembali kapan produk tersebut dibuat, bahan baku yang digunakan, supplier terkait, jumlah produksi, hingga hasil QC pada saat produksi.

Hal ini membantu proses investigasi menjadi lebih terarah. Produsen dapat mengidentifikasi kelompok produksi yang berkaitan dengan masalah tersebut, tanpa langsung memperlakukan seluruh produk dari periode produksi lainnya sebagai satu kelompok yang sama.

Karena itu, sistem batch tidak harus menunggu bisnis berkembang menjadi pabrik besar. Bahkan pada skala produksi yang masih kecil, pencatatan sederhana menggunakan buku, spreadsheet, atau sistem digital dapat mulai diterapkan selama informasinya konsisten dan mudah ditelusuri.

14. Lakukan Trial Produksi Sebelum Produksi Massal

Setelah produk, proses, kemasan, dan standar produksi mulai siap, sebaiknya jangan langsung meningkatkan produksi dalam jumlah besar. Lakukan trial produksi terlebih dahulu untuk melihat apakah seluruh proses dapat berjalan sesuai rencana.

Resep yang berhasil ketika dibuat 100 pcs belum tentu memberikan hasil yang sama ketika kapasitas dinaikkan menjadi 1.000 atau 10.000 pcs. Semakin besar volume produksi, semakin banyak faktor yang perlu dikendalikan, mulai dari waktu proses hingga kemampuan operator dan peralatan.

Trial produksi dapat digunakan untuk mengevaluasi beberapa hal berikut:

  • Konsistensi formula: apakah rasa, warna, tekstur, dan karakter produk tetap sesuai standar.
  • Kapasitas produksi: berapa banyak produk yang dapat dihasilkan dalam satu kali produksi atau periode tertentu.
  • Waktu produksi: berapa lama waktu yang dibutuhkan dari persiapan hingga produk selesai dikemas.
  • Hasil sealing: apakah kemasan tertutup dengan baik dan konsisten.
  • Kemasan: apakah material dan bentuk kemasan sesuai dengan produk serta proses produksi.
  • Shelf life: apakah produk dan kemasan mendukung kondisi penyimpanan serta pengujian umur simpan yang direncanakan.
  • Label: apakah informasi dapat ditempatkan dan dibaca dengan baik.
  • Coding: apakah kode produksi, nomor batch, dan informasi tanggal dapat dicetak dengan jelas pada area yang ditentukan.
  • Reject: berapa banyak produk yang tidak memenuhi standar dan apa penyebabnya.
  • Workflow operator: apakah pembagian pekerjaan dan perpindahan produk sudah efisien.

Gunakan Trial untuk Menemukan Bottleneck

Trial produksi juga dapat membantu menemukan bottleneck, yaitu tahapan yang menjadi hambatan sehingga memperlambat keseluruhan proses produksi.

Misalnya, proses memasak mampu menghasilkan 500 produk per jam, tetapi proses pengemasan hanya mampu menangani 200 produk per jam. Artinya, pengemasan berpotensi menjadi bottleneck karena kapasitasnya lebih rendah dibanding proses sebelumnya.

Masalah seperti ini lebih baik ditemukan ketika volume produksi masih terbatas daripada setelah produksi massal dimulai.

Kapan Usaha Makanan Mulai Membutuhkan Otomatisasi?

Tidak ada angka produksi tertentu yang berlaku untuk semua usaha dalam menentukan kapan harus mulai menggunakan otomatisasi. Kebutuhannya bergantung pada jenis produk, proses produksi, jumlah tenaga kerja, target kapasitas, dan masalah yang mulai muncul di lapangan.

Pada tahap awal, beberapa pekerjaan mungkin masih dapat dilakukan secara manual. Namun, ketika volume produksi bertambah, proses yang sebelumnya sederhana dapat mulai menjadi hambatan.

Beberapa tanda bahwa otomatisasi mulai perlu dipertimbangkan antara lain:

  • Volume produksi terus meningkat.
  • Proses manual mulai membutuhkan waktu terlalu lama.
  • Hasil produksi sulit dijaga konsistensinya.
  • Human error semakin sering terjadi.
  • Jumlah produk reject meningkat.
  • Kebutuhan pencatatan dan traceability semakin kompleks.
  • Production line perlu berjalan dengan kecepatan lebih tinggi.

Otomatisasi juga tidak berarti seluruh proses harus langsung menggunakan mesin. Produsen dapat menentukan tahapan mana yang paling membutuhkan peningkatan terlebih dahulu.

Dalam sebuah production line makanan, misalnya, otomatisasi dapat diterapkan secara bertahap pada proses:

Filling → Sealing → Coding → Inspection → Labeling → Secondary Packaging

Prioritasnya dapat ditentukan berdasarkan kapasitas dan bottleneck yang ditemukan selama produksi. Dengan demikian, investasi otomatisasi dilakukan untuk menyelesaikan kebutuhan yang nyata, bukan sekadar mengganti pekerjaan manual dengan mesin.

Baca juga: 3 Fakta Penting Peran Packaging untuk Produk Makanan Anda!

Otomatisasi Coding dan Marking Produk

Ketika jumlah produksi meningkat, pencantuman informasi yang berubah pada setiap produksi seperti tanggal produksi, expired date, batch number, dan lot number dapat menjadi salah satu proses yang perlu distandardisasi. Tujuannya agar informasi dapat dicetak secara konsisten dan mengikuti kebutuhan production line.

Gressler menyediakan solusi industrial coding dan marking mulai dari CIJ, TIJ, TTO, laser marking, DOD, hingga sistem pendukung production line. Pemilihan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan material kemasan, kecepatan produksi, jenis informasi yang dicetak, serta kondisi area produksi.

Kesimpulan

Memulai usaha makanan kemasan dari nol membutuhkan persiapan yang bertahap, bukan hanya soal resep dan kemasan. Pelaku usaha perlu memahami karakter produk, membuat standar produksi yang konsisten, menyiapkan legalitas, memperhatikan keamanan pangan, memilih kemasan yang sesuai, menentukan umur simpan, hingga membangun sistem Quality Control dan pencatatan batch.

Setiap usaha juga memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, fasilitas, peralatan, hingga tingkat otomatisasi sebaiknya disesuaikan dengan jenis produk, kapasitas produksi, dan proses yang benar-benar dibutuhkan. Ketika volume mulai meningkat, hasil trial produksi dapat digunakan untuk menemukan bottleneck dan menentukan bagian mana yang perlu ditingkatkan lebih dahulu.

FAQ

1. Bagaimana cara memulai usaha makanan kemasan dari nol?

Mulailah dengan menentukan jenis produk dan target konsumen, kemudian buat formula yang konsisten. Setelah itu, tentukan metode produksi, siapkan legalitas dan perizinan, tempat produksi, kemasan, umur simpan, label, Quality Control (QC), serta sistem pencatatan produksi. Sebelum meningkatkan kapasitas, lakukan trial produksi untuk mengevaluasi keseluruhan proses.

2. Apakah usaha makanan kemasan harus memiliki izin BPOM?

Tidak semua produk makanan kemasan menggunakan jalur perizinan yang sama. Tergantung jenis dan proses produksinya, produk dapat masuk dalam ketentuan SPP-IRT atau registrasi BPOM. Karena itu, pelaku usaha perlu memeriksa kategori dan persyaratan produknya terlebih dahulu.

3. Apakah usaha makanan harus memiliki sertifikat halal?

Sertifikasi halal perlu diperhatikan sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk produk makanan dan minuman UMK, artikel ini mencatat masa penahapan kewajiban sertifikasi halal berlangsung hingga 17 Oktober 2026 dan implementasi kewajibannya mulai 18 Oktober 2026.

4. Apakah usaha makanan kecil harus langsung membeli mesin produksi?

Tidak. Peralatan dan mesin sebaiknya disesuaikan dengan jenis produk, proses, dan kapasitas produksi. Beberapa proses dapat dimulai secara manual atau semi otomatis, kemudian ditingkatkan ketika volume produksi dan kebutuhan operasional bertambah.

5. Bagaimana cara menentukan tanggal kedaluwarsa makanan?

Tanggal kedaluwarsa sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan perkiraan atau mengikuti produk sejenis. Produsen perlu mempertimbangkan umur simpan (shelf life), karakteristik produk, kemasan, kondisi penyimpanan, serta perubahan fisik, mikrobiologis, atau kimia yang relevan dengan produknya.

6. Mengapa nomor batch penting untuk produk makanan?

Nomor batch membantu membedakan kelompok produksi dan menghubungkannya dengan catatan seperti tanggal produksi, bahan baku, supplier, operator, jumlah produksi, dan hasil QC. Sistem ini membantu proses traceability apabila kemudian ditemukan masalah pada produk tertentu.

7. Kapan usaha makanan perlu mulai menggunakan otomatisasi?

Tidak ada jumlah produksi yang berlaku untuk semua usaha. Otomatisasi dapat mulai dipertimbangkan ketika volume meningkat, proses manual menjadi lambat, hasil sulit konsisten, human error atau reject meningkat, kebutuhan traceability semakin kompleks, atau production line perlu bekerja lebih cepat.

Cari mesin coding yang sesuai material dan kebutuhan produksi?

Konsultasikan kebutuhan Anda dan coba trial gratis untuk melihat hasil cetaknya secara langsung.

Anda mungkin juga suka artikel ini

Konsultasi Gratis