PMK dan Keamanan Pakan: Aturan Label Permentan No. 11 Tahun 2026

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Daftar isi

sapi di rumput

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Penularannya tidak hanya melalui kontak langsung, tetapi juga dapat terjadi lewat benda atau material yang terkontaminasi, termasuk pakan, hay, air, kendaraan, peralatan, pakaian, dan alas kaki.

Karena itu, asal, jenis, dan identitas bahan pakan penting diketahui dengan jelas sebagai bagian dari kontrol biosecurity. Pemerintah melalui Permentan No. 11 Tahun 2026 juga mengatur pemasukan dan pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan, termasuk persyaratan mutu, keamanan, kemasan, dan label.

Baca artikel ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kaitan PMK dengan keamanan pakan, informasi apa saja yang perlu dicantumkan pada label, serta bagaimana proses pencetakannya dapat dilakukan secara lebih konsisten.

Apa Itu PMK dan Bagaimana Kaitannya dengan Pakan Ternak?

sapi di rumput

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini dapat menular dengan cepat dan mengganggu kesehatan ternak serta aktivitas peternakan.

PMK tidak hanya menular melalui kontak langsung antarhewan. Penularan juga dapat terjadi melalui benda atau material yang sudah terkontaminasi, misalnya kendaraan, peralatan, pakaian, air, hingga pakan.

Apakah PMK Bisa Menular Melalui Pakan?

Bisa, jika pakan atau material pakan sudah terkontaminasi virus PMK.

WOAH mencantumkan hay, feed, dan water yang terkontaminasi sebagai salah satu media yang dapat berperan dalam penyebaran PMK. USDA APHIS juga menjelaskan bahwa penularan dapat terjadi melalui konsumsi pakan yang terkontaminasi.

Namun, ini bukan berarti semua pakan berisiko membawa PMK. Risiko muncul ketika pakan, kemasan, atau lingkungan di sekitarnya terpapar virus dari sumber yang terinfeksi.

Karena itu, pengelolaan pakan perlu menjadi bagian dari biosecurity peternakan, termasuk memastikan bahan pakan:

  • berasal dari sumber yang jelas,
  • ditangani dengan baik,
  • disimpan dalam kondisi yang sesuai,
  • dan memiliki identitas yang mudah ditelusuri.

Dengan informasi bahan yang jelas, peternak maupun pelaku industri akan lebih mudah mengetahui apa yang digunakan, dari mana asalnya, dan melakukan penelusuran jika ditemukan masalah.

Kasus PMK di Indonesia

sapi virus pmk

Kasus PMK masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia pada 2026. Salah satunya terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali mencatat 51 kasus PMK pada sapi sepanjang Januari hingga Mei 2026. Peningkatan lalu lintas ternak menjelang Idul Adha disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan kasus di wilayah tersebut.

Secara nasional, laporan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan juga menunjukkan bahwa kasus PMK masih tersebar di beberapa provinsi. Pada Januari 2026, tercatat 2.450 kasus pada sapi, dengan Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus terbesar, yaitu 1.156 kasus.

Jumlah tersebut kemudian menurun pada bulan-bulan berikutnya. Pada Mei 2026 tercatat 506 kasus PMK pada sapi, sedangkan pada Juni 2026 jumlahnya turun menjadi 302 kasus. Meski menurun, data tersebut menunjukkan bahwa PMK masih perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan peternakan dan biosecurity.

Contoh lain terjadi di Riau, yang mencatat 810 kasus PMK sejak Januari hingga 21 Mei 2026, meskipun sekitar 88 persen ternak yang terjangkit dilaporkan telah sembuh.

Apa Penyebab PMK dan Bagaimana Kaitannya dengan Bahan Pakan?

sapi virus pmk vaksin

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh Foot-and-Mouth Disease Virus (FMDV), yaitu virus dari genus Aphthovirus. Virus ini sangat mudah menular pada hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, domba, dan babi.

Penyebaran PMK dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain:

  • Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
  • Kendaraan, kandang, atau peralatan yang terkontaminasi.
  • Pakaian dan alas kaki yang membawa virus.
  • Aerosol atau udara dalam kondisi tertentu.
  • Pakan, hay, dan air yang telah terkontaminasi virus.

Dalam konteks pakan, hal yang perlu dipahami adalah pakan bukan otomatis menjadi penyebab PMK. Risiko muncul ketika pakan atau bahan pakan terpapar virus dari lingkungan, hewan terinfeksi, kendaraan, peralatan, atau sumber kontaminasi lainnya. WOAH juga menempatkan pakan sebagai bagian penting dalam pengendalian bahaya kesehatan hewan karena bahan pakan dapat menjadi salah satu jalur masuk atau penyebaran agen penyakit jika terkontaminasi.

Karena itu, pengelolaan bahan pakan perlu dilakukan dengan baik, mulai dari asal bahan, penyimpanan, transportasi, hingga identitas produk yang jelas. Informasi yang lengkap membantu pelaku usaha maupun pengguna mengetahui bahan apa yang diterima dan dari mana asalnya, sehingga proses pengawasan dan penelusuran dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Mengapa Pemerintah Mengeluarkan Permentan No. 11 Tahun 2026?

Pemerintah menerbitkan Permentan No. 11 Tahun 2026 untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT) ke dan dari wilayah Indonesia. Dalam bagian pertimbangannya, aturan ini dibuat untuk memastikan bahan pakan asal tumbuhan yang masuk maupun keluar Indonesia memenuhi persyaratan teknis dan administrasi yang telah ditetapkan.

Artinya, fokus utama peraturan ini adalah menciptakan proses yang lebih terkontrol dari sisi:

  • asal bahan pakan,
  • mutu dan keamanan,
  • kemasan dan label,
  • perizinan,
  • pelaporan,
  • serta pengawasan terhadap pelaku usaha.

Selain itu, pemerintah juga mengatur bahwa bahan pakan yang masuk harus memenuhi persyaratan mutu dan keamanan tertentu. Pemenuhannya dapat mengacu pada Standar Nasional Indonesia, persyaratan teknis minimal, atau hasil pengujian parameter tertentu, tergantung jenis bahan yang diperdagangkan.

Dalam konteks kemasan, pemerintah juga mewajibkan adanya informasi yang jelas pada label, seperti jenis bahan pakan, nama dan alamat produsen atau eksportir, negara asal, serta berat bersih atau isi bersih. Ketentuan ini membantu membuat identitas bahan lebih jelas dan lebih mudah ditelusuri sepanjang proses distribusi.

Permentan No. 11 Tahun 2026 Mengatur Bahan Pakan Apa?

kementerian pertanian

Permentan No. 11 Tahun 2026 secara khusus mengatur pemasukan dan pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT) ke dan dari wilayah Indonesia. Jadi, peraturan ini tidak mencakup seluruh jenis pakan ternak secara umum, melainkan fokus pada bahan pakan yang berasal dari tumbuhan.

Aturan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari persyaratan teknis dan administrasi, mutu dan keamanan, hingga kemasan dan label untuk bahan pakan yang termasuk dalam cakupan tersebut.

Apa Itu Bahan Pakan Asal Tumbuhan?

Menurut Pasal 1, Bahan Pakan Asal Tumbuhan adalah bahan yang berasal dari tumbuhan, baik yang diolah maupun belum diolah, yang digunakan untuk pembuatan pakan.

Artinya, yang dimaksud bukan pakan jadi yang langsung diberikan kepada ternak, tetapi lebih ke bahan baku atau bahan penyusun pakan yang berasal dari tumbuhan.

Beberapa contoh Bahan Pakan Asal Tumbuhan yang tercantum dalam lampiran Permentan ini antara lain:

  • Gandum pakan.
  • Bungkil kedelai.
  • Dedak gandum.
  • Wheat pollard.
  • Soybean hulls.
  • Corn gluten meal.
  • Corn gluten feed.
  • DDGS.
  • Canola meal.
  • Copra meal.
  • Molasses.
  • Hay dan berbagai bahan feed grade lainnya.

Lampiran Permentan juga mencantumkan jenis bahan, uraian, dan kode HS untuk masing-masing komoditas. Karena itu, penting untuk membedakan antara bahan pakan dan pakan jadi, agar penerapan aturan tidak disalahartikan.

Permentan No. 11 Tahun 2026 Juga Mengatur Mutu dan Keamanan Bahan Pakan

Permentan No. 11 Tahun 2026 tidak hanya mengatur soal label atau informasi pada kemasan. Regulasi ini juga menetapkan sejumlah persyaratan teknis untuk Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT) yang masuk ke Indonesia.

Beberapa aspek yang diperhatikan antara lain:

  • Negara asal bahan pakan
  • Mutu dan keamanan BPAT
  • Kemasan dan label

Untuk aspek mutu dan keamanan, Permentan mengatur bahwa pemenuhannya dapat mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Jika SNI belum tersedia, dapat menggunakan persyaratan teknis minimal yang ditetapkan pemerintah. Jika keduanya belum tersedia, bahan dapat diuji melalui beberapa parameter seperti kadar air, kadar abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar.

Pemenuhan mutu dan keamanan tersebut juga dibuktikan melalui dokumen seperti Certificate of Analysis (CoA) atau Certificate of Quality (CoQ) untuk setiap pemasukan.

Artinya, regulasi ini tidak hanya berbicara tentang tulisan yang harus ada pada kemasan. Pemerintah juga mengatur asal bahan, mutu, keamanan, kemasan, serta identitas produk sebagai bagian dari proses pengendalian bahan pakan yang masuk ke Indonesia.

Apa Saja Informasi yang Harus Dicantumkan pada Label Bahan Pakan?

pakan karung print tij exp

Dalam Permentan No. 11 Tahun 2026, ketentuan mengenai label Bahan Pakan Asal Tumbuhan dijelaskan pada Pasal 10 dan Pasal 11. Informasi ini penting agar bahan pakan yang masuk dapat dikenali dengan lebih jelas dari sisi jenis, asal, dan identitas produsennya.

Menurut Pasal 10 dan 11, label minimal perlu mencantumkan:

  • Jenis Bahan Pakan Asal Tumbuhan
  • Nama dan alamat produsen atau eksportir
  • Negara asal
  • Berat bersih atau isi bersih

Selain itu, label juga wajib menggunakan atau dilengkapi dengan Bahasa Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

Contohnya bisa ditulis seperti berikut:

Informasi Contoh
Jenis bahan Soybean Meal – Feed Grade
Produsen ABC Feed Ltd
Negara asal Argentina
Berat bersih 50 kg

Informasi seperti ini membantu pihak penerima, distributor, produsen pakan, maupun pengguna akhir mengetahui bahan apa yang diterima dan dari mana asalnya.

Apa Hubungan Label Bahan Pakan dengan Pencegahan Risiko di Peternakan?

Label pada bahan pakan tidak secara langsung mencegah PMK atau penyakit lainnya. Namun, informasi yang jelas pada kemasan dapat membantu proses pengawasan, identifikasi, dan penelusuran bahan yang digunakan di peternakan.

Dengan kata lain, label menjadi salah satu bagian dari sistem kontrol yang lebih luas dalam menjaga keamanan bahan pakan.

Membantu Mengetahui Asal Bahan

Informasi seperti nama produsen atau eksportir dan negara asal membantu pihak penerima mengetahui dari mana bahan pakan tersebut berasal.

Hal ini penting terutama ketika bahan pakan datang dari berbagai pemasok atau negara yang berbeda. Dengan identitas yang jelas, perusahaan atau peternak dapat lebih mudah membedakan dan mencatat sumber setiap bahan yang digunakan.

Membantu Traceability

Jika suatu saat ditemukan masalah pada bahan pakan, identitas yang jelas akan mempermudah proses traceability atau penelusuran.

Pihak terkait dapat lebih cepat mengecek:

  • bahan apa yang digunakan,
  • siapa produsennya,
  • dari mana asalnya,
  • dan ke mana bahan tersebut didistribusikan.

Jika perusahaan juga menambahkan data internal seperti batch number atau lot number, proses penelusuran bisa menjadi lebih spesifik.

Mengurangi Risiko Salah Menggunakan Bahan

Jenis bahan pakan yang tercantum dengan jelas juga membantu operator gudang, produsen pakan, dan peternak membedakan bahan yang satu dengan yang lainnya.

Hal ini penting karena beberapa bahan bisa memiliki:

  • warna yang mirip,
  • bentuk serbuk atau pelet yang serupa,
  • serta kemasan yang hampir sama.

Dengan informasi yang jelas, risiko mengambil atau menggunakan bahan yang tidak sesuai dapat dikurangi.

Mendukung Biosecurity yang Lebih Terkontrol

Label sebaiknya tidak berdiri sendiri. Dalam praktiknya, informasi pada kemasan perlu menjadi bagian dari sistem biosecurity peternakan yang lebih menyeluruh.

Contohnya meliputi:

  • Pemeriksaan bahan saat datang.
  • Kebersihan dan pengelolaan gudang.
  • Sanitasi alat dan area produksi.
  • Kontrol kendaraan yang masuk.
  • Pengendalian akses orang ke area tertentu.
  • Pemeriksaan kondisi kesehatan ternak.

Apakah Label Bisa Menjamin Pakan Bebas Virus PMK?

Tidak. Label pada kemasan tidak bisa menjadi jaminan bahwa suatu bahan pakan bebas dari virus PMK.

Label pada dasarnya berfungsi untuk memberikan informasi mengenai bahan, seperti jenis bahan pakan, produsen atau eksportir, negara asal, serta berat bersih. Informasi ini membantu proses identifikasi dan traceability, tetapi tidak membuktikan kondisi mikrobiologis atau status kesehatan dari bahan tersebut.

Keamanan bahan pakan tetap bergantung pada beberapa faktor, antara lain:

  • Sumber bahan yang digunakan.
  • Proses pengiriman dan distribusi.
  • Kondisi penyimpanan.
  • Cara penanganan bahan.
  • Penerapan biosecurity.
  • Pemeriksaan atau pengujian yang relevan.

Karena itu, label sebaiknya dipahami sebagai salah satu bagian dari sistem pengendalian, bukan satu-satunya indikator keamanan pakan.

Dalam konteks PMK, informasi yang jelas pada kemasan dapat membantu jika suatu saat perlu dilakukan penelusuran terhadap bahan tertentu. Namun, untuk memastikan risiko penyakit tetap terkendali, perusahaan atau peternak tetap perlu memperhatikan aspek biosecurity, kebersihan, sumber bahan, serta prosedur pemeriksaan yang sesuai.

Tantangan Mencantumkan Informasi pada Kemasan Bahan Pakan

pakan karung print cij exp

Dalam praktiknya, mencantumkan informasi pada kemasan bahan pakan tidak selalu sederhana. Jenis kemasan yang digunakan bisa berbeda-beda, mulai dari karung woven, laminated sack, plastik, big bag, carton, hingga label tambahan.

Setiap material punya karakteristik permukaan dan kondisi produksi yang berbeda. Karena itu, metode pencetakan yang cocok untuk satu kemasan belum tentu memberikan hasil yang sama pada kemasan lainnya.

Permukaan Kemasan Tidak Selalu Rata

Kemasan seperti karung woven atau big bag biasanya memiliki permukaan yang lebih bertekstur dan tidak serata carton atau label.

Kondisi ini bisa memengaruhi hasil cetak, terutama dari sisi:

  • ketajaman tulisan,
  • posisi cetak,
  • dan keterbacaan informasi.

Karena itu, jenis printer dan posisi printhead perlu disesuaikan dengan bentuk serta tekstur kemasan.

Material Berbeda Membutuhkan Tinta yang Berbeda

Plastik, woven bag, laminated sack, dan carton memiliki karakter permukaan yang berbeda. Tinta yang menempel baik pada satu material belum tentu memberikan hasil yang sama pada material lainnya.

Pemilihan tinta perlu mempertimbangkan:

  • daya lekat,
  • kecepatan kering,
  • ketahanan terhadap gesekan,
  • dan kondisi penyimpanan.

Itulah sebabnya sample print pada kemasan asli penting dilakukan sebelum menentukan jenis tinta dan mesin.

Lingkungan Produksi Bisa Berdebu

Area produksi atau pengemasan bahan pakan sering berhadapan dengan debu dari bahan berbentuk tepung, dedak, atau serbuk.

Debu yang terlalu banyak dapat memengaruhi area pencetakan dan kondisi mesin. Karena itu, penempatan printer, kebersihan area, dan perawatan rutin perlu diperhatikan.

Informasi Antarproduk Bisa Berubah

Tidak semua informasi pada kemasan selalu sama.

Data seperti:

  • jenis bahan,
  • negara asal,
  • berat,
  • lot number,
  • batch number,
  • tanggal,
  • atau kode internal

bisa berubah antarproduk atau antar-pengiriman.

Jika semua informasi sudah dicetak permanen pada kemasan, perusahaan bisa membutuhkan banyak varian stok kemasan. Karena itu, data yang sering berubah biasanya lebih cocok dicetak secara fleksibel.

Volume Produksi Tinggi

Pada produksi dengan volume besar, pencantuman informasi secara manual bisa menjadi kurang efisien.

Semakin banyak kemasan yang harus diberi informasi, semakin besar juga kebutuhan waktu dan tenaga operator. Selain itu, hasil tulisan manual bisa kurang konsisten antar-kemasan.

Pada kondisi seperti ini, sistem pencetakan otomatis dapat membantu menjaga proses tetap cepat dan seragam.

Informasi Harus Tetap Mudah Dibaca

Kemasan bahan pakan akan melalui beberapa tahap, mulai dari pengemasan, penyimpanan di gudang, pemindahan, hingga distribusi.

Karena itu, informasi pada kemasan sebaiknya tetap terbaca dengan jelas selama proses tersebut.

Bagaimana Cara Mencantumkan Informasi pada Kemasan?

Informasi pada kemasan bahan pakan dapat dicantumkan dengan beberapa metode. Pemilihannya tergantung pada jenis informasi, material kemasan, jumlah varian produk, dan kebutuhan produksi.

Secara umum, ada tiga cara yang bisa digunakan, yaitu pre-printed packaging, label atau stiker, dan cetak langsung menggunakan mesin coding.

Pre-printed Packaging

Pada metode ini, informasi sudah dicetak sejak awal oleh supplier kemasan.

Metode ini cocok untuk informasi yang sifatnya tetap, seperti:

  • Logo perusahaan.
  • Nama perusahaan.
  • Desain kemasan.
  • Informasi produk yang jarang berubah.

Kelebihannya, tampilan kemasan bisa lebih rapi dan konsisten. Namun, metode ini kurang fleksibel jika perusahaan memiliki banyak varian produk atau informasi yang sering berubah.

Label atau Stiker

Label atau stiker bisa digunakan ketika informasi yang perlu dicantumkan cukup panjang atau produk memiliki banyak variasi.

Metode ini cocok untuk:

  • Informasi produk yang cukup detail.
  • Banyak varian bahan.
  • Kemasan yang sulit dicetak langsung.
  • Produksi dengan volume tertentu.

Label juga lebih fleksibel karena informasinya bisa disesuaikan tanpa harus mengganti seluruh desain kemasan.

Cetak Langsung Menggunakan Mesin Coding

pakan karung print cij exp 2

Untuk informasi yang perlu dicetak langsung saat proses packing atau berubah mengikuti produk, mesin coding bisa menjadi salah satu pilihan.

Informasi yang dicetak bisa berupa:

SOYBEAN MEAL – FEED GRADE
ORIGIN: ARGENTINA
NET WEIGHT: 50 KG

Perusahaan juga dapat menambahkan data internal, misalnya:

LOT: SM260901
RECEIVED: 09/09/2026

Metode ini cocok untuk data yang bersifat dinamis karena operator dapat mengubah informasi sesuai produk yang sedang diproses.

Keuntungannya antara lain:

  • Informasi lebih mudah diperbarui.
  • Tidak perlu membuat banyak varian kemasan.
  • Cocok untuk produksi dengan volume lebih tinggi.
  • Bisa diintegrasikan dengan conveyor atau mesin packaging.
  • Membantu menjaga hasil cetak tetap konsisten.

Mesin Coding Membantu Pencetakan Informasi Bahan Pakan

pakan karung print cij exp

Mesin coding dapat membantu perusahaan mencetak informasi pada kemasan bahan pakan secara lebih praktis, terutama ketika data yang dicantumkan sering berubah atau production line berjalan dengan volume tinggi.

Perlu dipahami, mesin coding bukan alat untuk mencegah PMK dan bukan teknologi yang diwajibkan dalam Permentan No. 11 Tahun 2026. Fungsinya adalah sebagai salah satu metode untuk membantu mencetak informasi pada kemasan dengan lebih konsisten dan efisien.

Beberapa manfaatnya antara lain:

  • Lebih konsisten
    Format, ukuran, dan posisi tulisan dapat dibuat lebih seragam dibandingkan penulisan manual.
  • Lebih cepat
    Proses pencetakan dapat dilakukan langsung saat produk bergerak di conveyor atau saat proses packing berlangsung.
  • Lebih fleksibel
    Informasi dapat disesuaikan dengan jenis bahan, negara asal, berat, lot number, tanggal, atau kode internal.
  • Mudah diubah
    Data yang berbeda antarproduk atau antar-batch dapat diperbarui tanpa harus membuat desain kemasan baru.
  • Bisa diintegrasikan dengan production line
    Mesin coding dapat dipasang pada conveyor atau sistem packaging sehingga proses pencetakan berjalan mengikuti alur produksi.

Untuk industri bahan pakan yang memiliki banyak varian produk atau kebutuhan traceability yang cukup tinggi, fleksibilitas seperti ini dapat membantu proses operasional menjadi lebih terkontrol.

Mesin Coding Apa yang Cocok untuk Kemasan Bahan Pakan?

pakan karung print cij exp 2

Pemilihan mesin coding untuk kemasan bahan pakan perlu disesuaikan dengan jenis kemasan, ukuran tulisan, informasi yang dicetak, dan kecepatan production line. Tidak semua teknologi cocok untuk kebutuhan yang sama.

Untuk kemasan bahan pakan, tiga teknologi yang bisa dipertimbangkan adalah DOD Large Character Printer, CIJ Printer, dan TIJ Printer.

DOD Large Character Printer

Produk lain dod

Untuk aplikasi bahan pakan, DOD Large Character Printer menjadi salah satu pilihan yang paling relevan, terutama jika informasi perlu dicetak dengan ukuran besar pada kemasan seperti:

  • Karung pakan.
  • Sack.
  • Big bag.
  • Karton besar.
  • Kemasan sekunder.

Keunggulan utamanya adalah kemampuan mencetak karakter berukuran besar, sehingga informasi lebih mudah terlihat saat proses penyimpanan, handling, maupun distribusi.

Contoh informasi yang bisa dicetak:

CORN GLUTEN MEAL
FEED GRADE
NET 50 KG

Teknologi ini cocok untuk pencetakan identitas bahan yang perlu terbaca jelas dari jarak tertentu.

CIJ Printer

Cij product home

CIJ atau Continuous Inkjet Printer cocok untuk kebutuhan pencetakan data yang lebih kecil dan berubah-ubah.

Teknologi ini bisa digunakan untuk mencetak:

  • Lot number.
  • Batch number.
  • Tanggal.
  • Kode internal.
  • Kode produksi.
  • Informasi variable lainnya.

CIJ juga cocok untuk production line yang berjalan cepat karena proses cetaknya dilakukan tanpa menyentuh langsung permukaan kemasan.

Untuk aplikasi bahan pakan, CIJ dapat dipertimbangkan jika kebutuhan utamanya adalah mencetak data variable secara cepat dan konsisten.

TIJ Printer

Tij homppage gressler

TIJ atau Thermal Inkjet Printer lebih cocok untuk aplikasi yang membutuhkan hasil cetak tajam dan detail pada permukaan yang relatif rata.

Contohnya:

  • Label.
  • Carton.
  • Kemasan dengan permukaan rata.
  • Barcode.
  • QR code.
  • Teks berukuran kecil.

TIJ dapat menjadi pilihan ketika kebutuhan cetak lebih fokus pada resolusi dan detail informasi.

Secara sederhana, pemilihannya bisa dilihat seperti ini:

Kebutuhan Teknologi yang Bisa Dipertimbangkan
Karung besar dan tulisan besar DOD Large Character
Data variable dan production line cepat CIJ
Label, carton, barcode, dan QR code TIJ

Kesimpulan

PMK masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan dalam industri peternakan karena penularannya dapat terjadi melalui berbagai media yang terkontaminasi, termasuk pakan, hay, air, kendaraan, dan peralatan. Karena itu, asal dan identitas bahan pakan penting untuk diketahui sebagai bagian dari kontrol biosecurity.

Permentan No. 11 Tahun 2026 mengatur pemasukan dan pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT), termasuk aspek mutu, keamanan, kemasan, dan label. Informasi pada kemasan membantu proses identifikasi dan traceability bahan, meskipun label tidak dapat menjamin bahan bebas dari virus PMK.

Untuk mencetak informasi tersebut, perusahaan dapat menggunakan pre-print, label, atau mesin coding seperti DOD Large Character, CIJ, dan TIJ sesuai jenis kemasan dan kebutuhan produksi.

FAQ Seputar PMK, Keamanan Pakan, dan Permentan No. 11 Tahun 2026

1. Apakah PMK bisa menular melalui pakan?

Bisa, jika pakan atau material pakan sudah terkontaminasi virus PMK. Namun, bukan berarti semua pakan menjadi sumber PMK. Risiko muncul ketika pakan terpapar virus dari hewan, lingkungan, kendaraan, peralatan, atau sumber terkontaminasi lainnya.

2. Apakah Permentan No. 11 Tahun 2026 dibuat khusus untuk mencegah PMK?

Tidak. Permentan No. 11 Tahun 2026 tidak secara khusus dibuat untuk mencegah PMK. Regulasi ini mengatur pemasukan dan pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan, termasuk persyaratan teknis, mutu, keamanan, kemasan, label, perizinan, dan pengawasan.

3. Apa yang dimaksud Bahan Pakan Asal Tumbuhan?

Bahan Pakan Asal Tumbuhan adalah bahan yang berasal dari tumbuhan, baik yang sudah diolah maupun belum diolah, yang digunakan untuk pembuatan pakan. Contohnya gandum pakan, bungkil kedelai, dedak gandum, corn gluten meal, DDGS, molasses, dan hay.

4. Informasi apa saja yang harus ada pada label bahan pakan?

Menurut Permentan No. 11 Tahun 2026, informasi minimal meliputi:

  • Jenis Bahan Pakan Asal Tumbuhan.
  • Nama dan alamat produsen atau eksportir.
  • Negara asal.
  • Berat bersih atau isi bersih.

Label juga wajib menggunakan atau dilengkapi Bahasa Indonesia.

5. Apakah label bisa menjamin bahan pakan bebas PMK?

Tidak. Label hanya membantu memberikan identitas dan informasi mengenai bahan. Keamanan bahan tetap dipengaruhi oleh sumber, pengiriman, penyimpanan, penanganan, biosecurity, serta pemeriksaan yang relevan.

6. Apa fungsi label dalam kaitannya dengan biosecurity?

Label membantu proses identifikasi dan traceability. Jika terjadi masalah, pihak terkait dapat lebih mudah mengetahui jenis bahan, produsen atau eksportir, negara asal, dan informasi lainnya untuk membantu proses penelusuran.

7. Apakah batch number dan lot number wajib dicantumkan?

Batch number dan lot number tidak disebut sebagai informasi minimal wajib dalam Pasal 10 dan 11 Permentan No. 11 Tahun 2026. Namun, perusahaan dapat menambahkannya untuk kebutuhan traceability internal.

8. Bagaimana cara mencantumkan informasi pada kemasan bahan pakan?

Informasi dapat dicantumkan melalui pre-printed packaging, label atau stiker, maupun pencetakan langsung menggunakan mesin coding. Pemilihannya tergantung jenis kemasan, informasi yang dicetak, dan kebutuhan produksi.

9. Apakah mesin coding wajib digunakan berdasarkan Permentan?

Tidak. Permentan tidak mewajibkan penggunaan mesin coding tertentu. Mesin coding hanya menjadi salah satu metode untuk membantu mencetak informasi dengan lebih konsisten, fleksibel, dan efisien.

10. Mesin coding apa yang cocok untuk kemasan bahan pakan?

Untuk karung, sack, atau big bag dengan tulisan besar, DOD Large Character Printer dapat dipertimbangkan. Untuk data variable dan production line cepat, CIJ Printer bisa menjadi pilihan. Sedangkan TIJ Printer cocok untuk label, carton, barcode, QR code, atau teks detail.

Noulla Nancy

Noulla Nancy

Marketing & CRM Manager

Expert Reviewer

Noulla Nancy adalah Marketing & CRM Manager di Gressler yang berperan dalam mengelola strategi pemasaran B2B, customer relationship management, dan pengembangan lead untuk kebutuhan industrial coding and marking. Dengan pengalaman di bidang sales, marketing, CRM, customer experience, dan market development, Noulla memahami bagaimana kebutuhan customer industri harus ditangani secara cepat, tepat, dan terarah. Dalam perannya, Noulla banyak terlibat dalam pengelolaan inquiry online, distribusi leads ke tim sales, monitoring progress follow-up, serta pengembangan strategi untuk mengoptimalkan peluang penjualan.

Lihat Profile Reviewer
Noulla Nancy

Noulla Nancy

Marketing & CRM Manager

Expert Reviewer

Noulla Nancy adalah Marketing & CRM Manager di Gressler yang berperan dalam mengelola strategi pemasaran B2B, customer relationship management, dan pengembangan lead untuk kebutuhan industrial coding and marking. Dengan pengalaman di bidang sales, marketing, CRM, customer experience, dan market development, Noulla memahami bagaimana kebutuhan customer industri harus ditangani secara cepat, tepat, dan terarah. Dalam perannya, Noulla banyak terlibat dalam pengelolaan inquiry online, distribusi leads ke tim sales, monitoring progress follow-up, serta pengembangan strategi untuk mengoptimalkan peluang penjualan.

Cari mesin coding yang sesuai material dan kebutuhan produksi?

Konsultasikan kebutuhan Anda dan coba trial gratis untuk melihat hasil cetaknya secara langsung.

Anda mungkin juga suka artikel ini

Konsultasi Gratis