Studi Kasus Tinta CIJ yang Tahan Direbus hingga Suhu 120°C

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Daftar isi

print tp 1175 mesin coding cij pouch retort 4

Dalam proses coding dan marking, hasil cetak yang terlihat jelas sesaat setelah printing belum tentu menjadi hasil akhir yang dibutuhkan.

Pada beberapa produk makanan, kemasan yang sudah diberi kode masih harus melewati proses lanjutan dengan suhu tinggi. Kondisi ini membuat tinta tidak hanya dituntut mampu mencetak dengan baik pada material kemasan, tetapi juga tetap bertahan setelah melewati proses panas.

Hal tersebut menjadi kebutuhan pada salah satu aplikasi makanan kucing dalam kemasan pouch. Setelah proses coding dilakukan, pouch kemudian melewati proses pemanasan atau perebusan pada kondisi:

  • Suhu sekitar 120°C
  • Durasi kurang lebih 1 jam

Kondisi tersebut cukup menantang karena panas dalam waktu yang lama dapat memengaruhi adhesion, ketajaman, hingga keterbacaan hasil cetak apabila formulasi tinta tidak sesuai.

Karena itu, kebutuhan customer bukan sekadar mencari tinta yang bisa mencetak pada pouch.

Yang dibutuhkan adalah tinta yang mampu menghasilkan kode dengan jelas sebelum proses pemanasan dan tetap bertahan setelah pouch melewati proses hingga 120°C selama sekitar 1 jam.

Inilah yang membuat ketahanan terhadap panas menjadi salah satu requirement utama dalam pemilihan tinta untuk aplikasi tersebut.

Latar Belakang Kebutuhan Customer

print tp 1175 mesin coding cij pouch retort (2)

Customer memproduksi makanan kucing dalam kemasan pouch yang melewati beberapa tahapan proses sebelum produk siap didistribusikan.

Pada salah satu tahap, dilakukan proses coding pada permukaan pouch untuk mencetak informasi penting seperti:

Kode tersebut berfungsi untuk membantu identifikasi produk dan traceability selama proses produksi hingga distribusi.

Namun, ada kondisi khusus pada aplikasi ini.

Setelah coding dilakukan, pouch masih harus melewati proses pemanasan pada suhu tinggi. Dalam kondisi aktualnya, kemasan mengalami proses sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Artinya, hasil print tidak cukup hanya terlihat jelas saat pertama kali dicetak. Kode juga perlu tetap terbaca setelah kemasan melewati proses panas tersebut.

Untuk studi kasus lainnya, baca artikel Studi Kasus Tinta Washable untuk Coding pada Galon Reusable

Ada Tiga Requirement Utama

Dari sisi aplikasi, kebutuhan customer dapat dirangkum menjadi tiga hal utama:

  1. Material yang dicetak berupa pouch fleksibel
    Permukaan pouch memiliki karakter yang berbeda dibandingkan karton, botol, atau material rigid lainnya. Karena itu, tinta perlu memiliki adhesion yang sesuai dengan material tersebut.
  2. Hasil coding harus tetap jelas dan terbaca
    Informasi produksi seperti batch number dan expired date perlu tetap mudah dibaca setelah seluruh proses produksi selesai.
  3. Kode harus bertahan setelah proses panas
    Pouch akan mengalami suhu sekitar 120°C selama ±1 jam, sehingga tinta yang digunakan perlu memiliki karakter ketahanan panas yang sesuai.

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan customer bukan sekadar mencari tinta CIJ yang bisa mencetak pada pouch.

Yang dibutuhkan adalah tinta yang mampu menempel dengan baik, menghasilkan kode yang jelas, dan tetap bertahan setelah melewati proses pemanasan suhu tinggi.

Apa Masalah yang Dihadapi?

Pada aplikasi ini, tantangannya bukan hanya bagaimana mencetak kode pada pouch.

Hasil print juga harus mampu menghadapi proses lanjutan dengan suhu tinggi. Karena pouch akan dipanaskan hingga sekitar 120°C selama ±1 jam, tinta yang digunakan perlu memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Hasil Print Berpotensi Terpengaruh Suhu Tinggi

Tidak semua tinta memiliki tingkat ketahanan panas yang sama.

Tinta yang terlihat baik sesaat setelah printing belum tentu memberikan hasil yang sama setelah kemasan melewati proses pemanasan dalam waktu yang cukup lama.

Pada kondisi tertentu, paparan suhu tinggi dapat berpotensi menyebabkan:

  • Warna tinta memudar.
  • Kode menjadi kurang tajam.
  • Adhesion menurun.
  • Tinta lebih mudah terangkat setelah proses.
  • Readability hasil coding berkurang.

Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi aplikasi masing-masing.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi ketahanan hasil print antara lain:

  • Suhu proses.
  • Durasi pemanasan.
  • Jenis material pouch.
  • Coating pada permukaan.
  • Formulasi tinta.
  • Kondisi hasil print sebelum masuk proses panas.

Karena itu, tinta yang disebut tahan panas tetap perlu diuji pada kondisi produksi aktual.

Dalam studi kasus ini, pengujian menjadi penting karena pouch mengalami proses sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Kemasan Pouch Memiliki Permukaan yang Berbeda-beda

Tantangan berikutnya berasal dari material pouch itu sendiri.

Flexible packaging tidak selalu memiliki karakter permukaan yang sama. Walaupun sama-sama disebut pouch, struktur materialnya bisa berbeda.

Contohnya:

  • Film plastik.
  • Material laminasi.
  • Permukaan dengan coating tertentu.
  • Permukaan glossy.
  • Struktur multilayer.

Perbedaan tersebut dapat memengaruhi bagaimana tinta menempel pada permukaan.

Secara sederhana, adhesion adalah kemampuan tinta untuk tetap menempel pada permukaan material setelah dicetak. Jika adhesion kurang sesuai, hasil coding bisa lebih mudah terganggu setelah terkena panas, gesekan, atau proses handling berikutnya.

Karena itu, untuk aplikasi seperti ini, tinta tidak cukup hanya memiliki karakter tahan panas. Tinta juga perlu memiliki adhesion yang sesuai dengan material pouch yang digunakan customer.

Requirement Tinta yang Dibutuhkan

print tp 1175 mesin coding cij pouch retort 3

Dari kondisi produksi tersebut, customer membutuhkan tinta CIJ dengan karakter yang lebih spesifik dibandingkan tinta CIJ standar.

Tinta yang digunakan tidak hanya harus bisa mencetak pada pouch, tetapi juga perlu tetap mempertahankan kualitas hasil coding setelah kemasan melewati proses panas.

Beberapa requirement utama yang perlu dipenuhi antara lain:

  • Kompatibel dengan CIJ printer
    Tinta harus dapat digunakan pada sistem Continuous Inkjet Printer yang dipakai di production line.
  • Bisa mencetak pada material pouch
    Tinta perlu mampu memberikan hasil cetak yang sesuai pada permukaan flexible packaging yang digunakan.
  • Memiliki adhesion yang sesuai
    Setelah dicetak, tinta perlu menempel dengan baik pada permukaan pouch agar hasil coding tidak mudah terangkat.
  • Menghasilkan kode yang jelas dan terbaca
    Informasi seperti production date, expired date, batch number, atau lot number harus tetap mudah dibaca.
  • Memiliki drying time yang sesuai
    Tinta perlu mengering dalam waktu yang mendukung kecepatan production line agar tidak menghambat proses berikutnya.
  • Tidak mudah smudge
    Setelah printing, hasil coding perlu cukup stabil agar tidak mudah melebar atau bergeser saat mengalami handling normal.
  • Memiliki ketahanan terhadap proses panas
    Karena pouch akan melewati proses pemanasan, tinta perlu memiliki karakter heat resistant yang sesuai dengan kondisi tersebut.
  • Tetap terbaca setelah sekitar 120°C selama ±1 jam
    Hasil coding perlu mempertahankan readability setelah pouch melewati proses panas pada kondisi aktual customer.
  • Adhesion tetap terjaga setelah pemanasan
    Ketahanan tinta tidak cukup hanya dilihat sebelum proses panas. Setelah pemanasan, tinta juga perlu tetap menempel dengan baik pada permukaan pouch.
  • Tidak mudah hilang saat rubbing test sederhana
    Setelah proses panas, hasil coding perlu diuji kembali untuk melihat apakah tinta tetap menempel saat digosok menggunakan tangan.

Dengan requirement tersebut, pemilihan tinta tidak bisa hanya berdasarkan kompatibilitas dengan printer atau kemampuan mencetak pada pouch.

Solusi yang Digunakan: Tinta TP1175

pt worcas karton gressler cij

Setelah melihat kondisi material dan proses produksi customer, dibutuhkan tinta CIJ yang tidak hanya mampu mencetak dengan jelas pada pouch, tetapi juga memiliki ketahanan yang sesuai terhadap suhu tinggi.

Untuk kebutuhan tersebut, solusi yang digunakan adalah tinta TP1175.

TP1175 merupakan tinta untuk aplikasi Continuous Inkjet Printer (CIJ) dengan karakter heat resistant. Tinta ini dapat dipertimbangkan untuk aplikasi yang hasil coding-nya masih harus melewati proses pemanasan setelah printing.

Karakter utama TP1175 antara lain:

  • Heat resistant
    Memiliki karakter ketahanan terhadap panas untuk aplikasi yang melewati proses temperatur tinggi.
  • Digunakan untuk aplikasi CIJ
    TP1175 digunakan bersama teknologi Continuous Inkjet Printer untuk mencetak informasi seperti production date, expired date, batch number, lot number, dan kode produksi lainnya.
  • Dapat dipertimbangkan untuk flexible packaging tertentu
    TP1175 dapat digunakan sebagai salah satu opsi untuk material flexible packaging seperti pouch, tergantung karakter permukaan dan hasil pengujian pada material aktual.
  • Relevan untuk proses pemanasan setelah coding
    Tinta ini cocok dipertimbangkan ketika produk masih harus melewati proses thermal setelah kode dicetak.

Pada studi kasus ini, salah satu requirement utama customer adalah hasil coding tetap bertahan setelah pouch makanan kucing melewati proses pemanasan sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Setelah proses tersebut, hasil coding kemudian diperiksa kembali melalui rubbing test sederhana dengan cara digosok menggunakan tangan. Dari pengujian yang dilakukan, hasil print tetap menempel dan masih terbaca dengan baik.

Hasil Pengujian pada Pouch

print tp 1175 mesin coding cij pouch retort 2

Setelah proses sample print dilakukan, pouch kemudian melewati kondisi pemanasan yang sesuai dengan kebutuhan aktual customer.

Pada pengujian ini, pouch mengalami proses pada suhu sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Setelah proses pemanasan selesai, hasil coding diperiksa kembali untuk melihat bagaimana tinta merespons kondisi suhu tinggi tersebut.

Hasil Setelah Proses Pemanasan

Beberapa hal yang diperiksa antara lain:

  • Ketajaman hasil coding.
  • Adhesion tinta pada pouch.
  • Readability kode.
  • Kondisi tinta setelah terkena panas.

Dari pengujian yang dilakukan, hasil print tetap menempel pada permukaan pouch dan kode masih dapat terbaca setelah proses pemanasan.

Selain itu, terdapat perubahan visual pada warna hasil coding. Sebelum proses pemanasan, tinta terlihat berwarna hitam. Setelah melewati proses sekitar 120°C selama ±1 jam, warna hasil print berubah menjadi cenderung biru.

Perubahan warna tersebut menjadi bagian dari respons tinta setelah melewati proses thermal. Namun, pada pengujian ini fungsi utama coding tetap dapat dipertahankan karena kode masih terbaca dan tinta tetap menempel pada permukaan pouch.

Dilanjutkan dengan Rubbing Test

Setelah itu, dilakukan rubbing test sederhana menggunakan tangan.

Tujuannya adalah untuk melihat apakah tinta mudah terangkat atau hilang setelah sebelumnya terkena suhu tinggi.

Hasilnya, tinta tetap menempel dan tidak mudah hilang saat digosok menggunakan tangan. Readability kode juga masih dapat dipertahankan.

TP1175 Bisa Dipertimbangkan untuk Aplikasi Apa?

mesin coding expired date untuk cetak di kawat cij 2

TP1175 tidak perlu diposisikan sebagai tinta untuk semua kebutuhan coding. Tinta ini lebih relevan untuk aplikasi yang membutuhkan hasil print tetap bertahan setelah melewati proses temperatur tinggi.

Beberapa aplikasi yang dapat dipertimbangkan antara lain:

Pouch Makanan Hewan

TP1175 dapat dipertimbangkan untuk kemasan pouch makanan hewan yang masih harus melewati proses pemanasan setelah coding.

Pada studi kasus ini, aplikasinya digunakan pada pouch makanan kucing yang diproses pada suhu sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Karena itu, kebutuhan utamanya bukan hanya hasil print yang jelas sebelum proses panas, tetapi juga kode yang tetap menempel dan terbaca setelah proses tersebut selesai.

Retort atau Thermal Process Packaging

TP1175 juga dapat dipertimbangkan untuk aplikasi packaging yang melewati proses retort atau thermal treatment.

Pada proses seperti ini, kemasan dapat mengalami suhu tinggi dalam durasi tertentu. Karena itu, tinta perlu memiliki karakter heat resistant yang sesuai dengan kondisi proses tersebut.

Namun, setiap proses retort atau thermal treatment dapat memiliki parameter yang berbeda. Suhu, durasi, material kemasan, dan kondisi proses tetap perlu diuji secara aktual.

Flexible Packaging Tertentu

TP1175 dapat digunakan sebagai salah satu opsi untuk flexible packaging seperti:

  • Film.
  • Pouch.
  • Material laminasi tertentu.
  • Kemasan dengan coating tertentu.

Namun, kesesuaiannya tetap perlu dilihat dari hasil sample print, adhesion test, dan heat resistance test.

Hal ini penting karena karakter permukaan flexible packaging bisa berbeda walaupun secara visual terlihat serupa.

Production Line Berbasis CIJ

TP1175 digunakan untuk aplikasi Continuous Inkjet Printer (CIJ).

Tinta ini dapat dipertimbangkan untuk production line yang membutuhkan:

  • Printing pada produk yang bergerak.
  • Data coding yang berubah-ubah.
  • Kecepatan line yang tinggi.
  • Hasil coding yang perlu melewati proses panas setelah printing.

Dengan begitu, customer tetap dapat memanfaatkan fleksibilitas CIJ sambil menggunakan tinta yang memiliki karakter ketahanan panas sesuai aplikasinya.

Tetap Perlu Uji pada Kondisi Aktual

Walaupun TP1175 memiliki karakter heat resistant, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi produksi masing-masing.

Beberapa faktor yang perlu diuji antara lain:

  • Material pouch.
  • Jenis coating.
  • Suhu proses.
  • Durasi pemanasan.
  • Adhesion sebelum dan sesudah proses panas.
  • Readability.
  • Rubbing resistance setelah pemanasan.

Dengan pengujian tersebut, penggunaan TP1175 dapat ditentukan berdasarkan hasil nyata pada material dan proses thermal yang benar-benar dijalankan customer.

Proses Penentuan Tinta untuk Aplikasi Ini

print tp 1175 mesin coding cij pouch retort 4

Pemilihan tinta untuk aplikasi dengan suhu tinggi tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan spesifikasi tinta di atas kertas.

Prosesnya perlu dimulai dari memahami kondisi aktual customer, lalu dilanjutkan dengan sample print, thermal test, rubbing test, hingga validasi sebelum digunakan di production line.

1. Memahami Kebutuhan Customer

Tahap pertama adalah memahami bagaimana produk dan kemasan diproses secara keseluruhan.

Beberapa informasi yang perlu diketahui antara lain:

  • Produk yang dikemas.
  • Material pouch.
  • Jenis printer yang digunakan.
  • Informasi yang akan dicetak.
  • Kecepatan production line.
  • Suhu proses.
  • Durasi pemanasan.
  • Kondisi pouch setelah pemanasan.
  • Requirement ketahanan hasil print.

Pada studi kasus ini, titik kritisnya adalah pouch makanan kucing yang harus melewati proses sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam.

Artinya, tinta tidak cukup hanya bisa mencetak dengan baik pada pouch. Hasil coding juga perlu tetap bertahan setelah melewati proses panas tersebut.

2. Menentukan Kandidat Tinta

Setelah kebutuhan customer dipahami, tahap berikutnya adalah memilih kandidat tinta yang secara karakter paling mendekati requirement tersebut.

Beberapa faktor yang dipertimbangkan meliputi:

  • Kompatibilitas dengan CIJ.
  • Adhesion pada material pouch.
  • Drying time.
  • Ketahanan terhadap panas.
  • Readability.
  • Stabilitas hasil print setelah thermal process.

TP1175 menjadi salah satu kandidat karena memiliki karakter heat resistant yang relevan dengan kebutuhan aplikasi ini.

Namun, karakter tinta saja belum cukup untuk memastikan hasil akhirnya. Pengujian langsung tetap diperlukan.

3. Melakukan Sample Print pada Pouch Aktual

Tahap berikutnya adalah melakukan sample print menggunakan material pouch milik customer.

Pengujian pada material aktual penting karena setiap pouch dapat memiliki karakter permukaan yang berbeda, mulai dari jenis film, coating, hingga struktur laminasinya.

Beberapa hal yang diperiksa pada tahap ini antara lain:

  • Ketajaman hasil print.
  • Adhesion tinta.
  • Drying time.
  • Potensi smudge.
  • Readability sebelum proses pemanasan.

Jika hasil awal sudah sesuai, sample kemudian dilanjutkan ke proses thermal test.

4. Trial Proses Panas

Pouch yang sudah dicetak kemudian diuji pada kondisi yang menyerupai proses aktual customer.

Pada studi kasus ini, kondisi pengujiannya adalah:

  • Suhu sekitar 120°C
  • Durasi sekitar 1 jam

Setelah proses selesai, hasil coding kembali dievaluasi.

Yang diperiksa antara lain:

  • Apakah kode masih terlihat jelas.
  • Apakah warna tinta berubah.
  • Apakah adhesion tetap baik.
  • Apakah ada bagian tinta yang terangkat.
  • Apakah readability masih terjaga.

Tahap ini menjadi penting karena kualitas tinta baru benar-benar bisa dinilai setelah pouch melewati kondisi panas yang menjadi requirement utama.

5. Melakukan Rubbing Test Setelah Pemanasan

Setelah thermal test selesai, hasil coding kemudian diuji kembali melalui rubbing test sederhana menggunakan tangan.

Tujuannya adalah untuk melihat apakah tinta masih menempel dengan baik setelah terkena suhu tinggi.

Beberapa hal yang diperiksa antara lain:

  • Apakah tinta mudah terangkat.
  • Apakah kode tetap jelas.
  • Apakah terjadi smudge.
  • Apakah readability tetap terjaga.

Pada pengujian yang dilakukan, hasil coding tetap menempel dan terbaca setelah dilakukan rubbing test menggunakan tangan.

Hasil ini menjadi salah satu indikator bahwa TP1175 mampu memenuhi kebutuhan aplikasi pada kondisi yang diuji.

6. Validasi Sebelum Implementasi

Setelah sample print, thermal test, dan rubbing test memberikan hasil yang sesuai, tahap berikutnya adalah melakukan validasi sebelum implementasi penuh di production line.

Beberapa aspek yang kembali diperiksa antara lain:

  • Konsistensi hasil print.
  • Ketahanan setelah proses panas.
  • Adhesion.
  • Readability.
  • Stabilitas tinta selama produksi.
  • Kesesuaian dengan kecepatan line.

Dengan proses tersebut, pemilihan tinta tidak dilakukan berdasarkan asumsi.

Kesimpulan

Studi kasus ini menunjukkan bahwa pada aplikasi yang melewati proses suhu tinggi, hasil coding tidak cukup hanya terlihat jelas saat pertama kali dicetak.

Pada pouch makanan kucing ini, kode masih harus bertahan setelah kemasan melewati proses sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam. Karena itu, tinta yang digunakan perlu memiliki karakter heat resistant sekaligus adhesion yang sesuai dengan material pouch.

TP1175 menjadi salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan tersebut. Dari pengujian yang dilakukan, hasil coding tetap menempel dan masih terbaca setelah proses pemanasan. Setelah dilakukan rubbing test sederhana menggunakan tangan, tinta juga tidak mudah hilang.

Namun, hasil tersebut tetap spesifik pada material dan kondisi pengujian yang digunakan. Karena setiap pouch, coating, suhu, dan durasi proses bisa berbeda, sample print, thermal test, dan rubbing test tetap perlu dilakukan sebelum implementasi penuh di production line.

Frequently Asked Question (FAQ)

1. Apa itu tinta TP1175?
TP1175 merupakan tinta untuk aplikasi CIJ yang memiliki karakter heat resistant. Tinta ini dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan coding yang hasil print-nya masih harus melewati proses suhu tinggi setelah pencetakan.

2. Apakah TP1175 bisa digunakan untuk pouch makanan?
Bisa dipertimbangkan, terutama pada flexible packaging tertentu seperti pouch. Namun, kesesuaiannya tetap perlu diuji karena setiap material, coating, dan struktur pouch bisa berbeda.

3. Apakah hasil coding TP1175 tahan pada suhu 120°C?
Pada studi kasus ini, hasil coding diuji pada pouch yang mengalami proses sekitar 120°C selama kurang lebih 1 jam, dan hasil print tetap menempel serta masih terbaca setelah proses tersebut.

4. Apakah TP1175 cocok untuk semua proses retort atau thermal treatment?
Belum tentu. Setiap proses retort atau thermal treatment bisa memiliki suhu, durasi, tekanan, dan material kemasan yang berbeda. Karena itu, sample print dan thermal test tetap diperlukan.

5. Kenapa tinta CIJ biasa belum tentu cocok untuk proses suhu tinggi?
Karena setiap tinta memiliki karakter formulasi yang berbeda. Pada kondisi tertentu, suhu tinggi dapat memengaruhi adhesion, ketajaman, warna, dan readability hasil coding.

6. Apa yang diuji setelah pouch melewati proses pemanasan?
Beberapa hal yang diperiksa antara lain ketajaman kode, adhesion tinta, readability, serta kondisi hasil print setelah terkena panas.

7. Apakah dilakukan rubbing test setelah pemanasan?
Ya. Pada studi kasus ini, setelah pouch melewati proses sekitar 120°C selama ±1 jam, hasil coding digosok menggunakan tangan. Hasil print tetap menempel dan tidak mudah hilang.

8. Apakah TP1175 hanya bisa digunakan untuk makanan kucing?
Tidak. Studi kasus ini menggunakan pouch makanan kucing, tetapi TP1175 dapat dipertimbangkan untuk aplikasi lain yang membutuhkan tinta tahan panas, selama material dan proses produksinya sudah melalui pengujian.

9. Apakah harus mengganti mesin CIJ jika tinta sekarang tidak tahan panas?
Belum tentu. Jika mesin CIJ yang digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan production line, masalahnya bisa berada pada karakter tinta. Pemilihan tinta dengan heat resistance yang lebih sesuai bisa menjadi salah satu solusi.

10. Bagaimana mengetahui TP1175 cocok untuk produk saya?
Cara paling aman adalah melakukan sample print, adhesion test, thermal test, dan rubbing test menggunakan material serta kondisi proses aktual. Dengan begitu, hasilnya bisa dievaluasi berdasarkan kebutuhan produksi yang sebenarnya.

Dwi Cahyono

Dwi Cahyono

Supervisor Service Engineer

Technical Reviewer

Dwi Cahyono adalah Supervisor Service Engineer Gressler yang berpengalaman dalam bidang mesin coding dan marking untuk kebutuhan industri manufaktur. Ia berperan dalam memastikan proses instalasi, commissioning, troubleshooting, maintenance, dan training mesin coding berjalan sesuai standar teknis di berbagai line produksi. Dengan pengalaman di lapangan, Dwi memahami berbagai tantangan yang sering dihadapi customer, seperti hasil cetak kurang jelas, mesin sering error, kebutuhan setting printer sesuai speed line, hingga pemilihan tinta yang tepat untuk berbagai jenis material kemasan. Ia juga mendukung tim service dalam memberikan solusi teknis yang cepat, akurat, dan sesuai dengan kondisi produksi customer.

Lihat Profile Reviewer
Dwi Cahyono

Dwi Cahyono

Supervisor Service Engineer

Technical Reviewer

Dwi Cahyono adalah Supervisor Service Engineer Gressler yang berpengalaman dalam bidang mesin coding dan marking untuk kebutuhan industri manufaktur. Ia berperan dalam memastikan proses instalasi, commissioning, troubleshooting, maintenance, dan training mesin coding berjalan sesuai standar teknis di berbagai line produksi. Dengan pengalaman di lapangan, Dwi memahami berbagai tantangan yang sering dihadapi customer, seperti hasil cetak kurang jelas, mesin sering error, kebutuhan setting printer sesuai speed line, hingga pemilihan tinta yang tepat untuk berbagai jenis material kemasan. Ia juga mendukung tim service dalam memberikan solusi teknis yang cepat, akurat, dan sesuai dengan kondisi produksi customer.

Cari mesin coding yang sesuai material dan kebutuhan produksi?

Konsultasikan kebutuhan Anda dan coba trial gratis untuk melihat hasil cetaknya secara langsung.

Anda mungkin juga suka artikel ini

Konsultasi Gratis