Pada 15 September 2026, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengumumkan temuan terhadap 25 merek beras yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi dan diduga tidak sesuai dengan standar maupun kandungan yang tercantum pada label.
Pemerintah kemudian meminta produk-produk tersebut ditarik dari peredaran. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan berupa pencabutan izin usaha dan proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat. Temuan ini diperoleh setelah dilakukan pengujian melalui beberapa laboratorium yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara produk dengan informasi yang disampaikan kepada konsumen.
Kasus ini tidak hanya menyoroti kandungan beras fortifikasi. Bagi produsen, ada hal lain yang sama pentingnya, yaitu memastikan informasi pada kemasan benar-benar sesuai dengan produk yang dijual. Mulai dari klaim produk, kelas mutu, tanggal produksi, kode produksi, hingga keterangan kedaluwarsa, semuanya perlu dicantumkan dengan jelas dan akurat.
Kenapa Pemerintah Menarik Beras Fortifikasi?

Pemerintah mengambil tindakan setelah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah produk beras yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi.
Dalam proses pemeriksaan tersebut, sampel produk diuji melalui beberapa laboratorium. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan informasi dan klaim yang tercantum pada kemasan.
Dari pemeriksaan itu, ditemukan adanya produk yang diduga tidak memenuhi kandungan atau mutu sesuai klaim yang dicantumkan. Artinya, terdapat ketidaksesuaian antara informasi pada label dengan kondisi produk yang sebenarnya.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap produk yang bermasalah.
25 Merek Masuk dalam Temuan Pemerintah
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut terdapat 25 merek beras fortifikasi yang masuk dalam temuan pemerintah.
Pemerintah kemudian menyiapkan tiga langkah utama, yaitu:
Produk ditarik dari peredaran
↓
Izin usaha dicabut atau diproses
↓
Kasus dilanjutkan ke proses hukum
Langkah ini dilakukan untuk melindungi konsumen sekaligus menindak pelaku usaha yang diduga menjual produk dengan informasi yang tidak sesuai.
Masalahnya Bukan Hanya Soal Kandungan
Kasus ini juga menunjukkan pentingnya akurasi informasi pada kemasan.
Jika suatu produk mencantumkan klaim fortifikasi, kandungan gizi, kelas mutu, atau informasi tertentu pada label, maka informasi tersebut harus sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya.
Hal yang sama berlaku untuk informasi produksi lainnya. Produsen perlu memastikan data seperti tanggal produksi, kode produksi, nomor batch, hingga keterangan kedaluwarsa dicantumkan dengan benar dan mudah dibaca.
Karena itu, label bukan hanya bagian dari desain kemasan, tetapi juga menjadi sumber informasi penting bagi konsumen dan bagian dari tanggung jawab produsen terhadap produk yang diedarkan.
Sebenarnya Apa Itu Beras Fortifikasi?

Beras fortifikasi adalah beras yang mendapatkan penambahan zat gizi tertentu untuk meningkatkan kandungan nutrisinya.
Salah satu metode yang digunakan adalah mencampurkan beras biasa dengan fortified rice kernel (FRK), yaitu butiran beras yang sudah diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu.
Secara sederhana, FRK berfungsi sebagai pembawa zat gizi yang kemudian dicampurkan ke dalam beras agar kandungan nutrisinya meningkat.
Apa Tujuan Fortifikasi Beras?
Fortifikasi dilakukan untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi tertentu melalui bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Program seperti ini terutama relevan untuk mendukung kebutuhan kelompok yang lebih rentan terhadap kekurangan gizi, misalnya:
- Balita.
- Ibu hamil.
- Ibu menyusui.
- Kelompok rentan gizi.
- Masyarakat yang membutuhkan intervensi gizi tertentu.
Dengan begitu, beras tidak hanya berfungsi sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga dapat menjadi salah satu media untuk membantu menambah asupan vitamin atau mineral tertentu.
Kandungan Fortifikasi Harus Sesuai Klaim
Karena ada penambahan zat gizi, produsen tidak bisa sembarangan mencantumkan klaim fortifikasi pada kemasan.
Jika pada label tertulis bahwa beras mengandung vitamin atau mineral tertentu, maka kandungan tersebut harus sesuai dengan standar dan hasil pengujian yang berlaku.
25 Merek Beras Fortifikasi yang Ditarik Pemerintah

Berdasarkan keterangan pemerintah yang diberitakan pada 15 September 2026, terdapat 25 merek beras fortifikasi yang dinyatakan tidak memenuhi standar setelah melalui pengujian laboratorium. Pemerintah kemudian menginstruksikan penarikan produk tersebut dari jaringan distribusi.
Adapun 25 merek yang disebut dalam temuan tersebut adalah:
- Idola Fortifikasi
- Idola High Quality Whole Grain Rice
- Idola Long Grain Rice
- Ikan Mas Cupang AAA
- Wijaya Kusuma
- Cantik Manis
- Penari Bangkok
- Topi Koki Short Grain
- Topi Koki Setra Royale
- Topi Koki Long Grain Crystal
- HOK-1
- Gohan
- Maknyuss Pulen Gizi Anak
- Raja Fortifikasi Anak
- Raja Nusantara
- Top Anak Raja
- PMS Induk Ayam
- Sumo
- Rasvit FS
- Nutri Rice
- Pelikan Rice
- Rojolele Super
- Kepala Beras Premium 111
- 111 Golden Number Putri Koki
- Wellfarm Beras Diabetes
Daftar tersebut merupakan merek yang disebut pemerintah dalam temuan terkait beras fortifikasi yang dinilai tidak memenuhi standar (TMS) berdasarkan hasil pengujian laboratorium.
Apa Masalah yang Ditemukan pada 25 Merek Beras Fortifikasi?

Dari hasil pemeriksaan pemerintah, masalah pada 25 merek beras fortifikasi tidak hanya berkaitan dengan nama atau klaim produk. Pemerintah menyoroti adanya dugaan ketidaksesuaian antara kandungan beras, informasi pada label, dan harga jual yang diterima konsumen.
Kandungan Diduga Tidak Sesuai Klaim
Masalah utama yang ditemukan adalah adanya dugaan bahwa kandungan fortifikasi pada produk tidak sesuai dengan klaim yang dicantumkan.
Artinya, jika pada kemasan tertulis bahwa beras sudah difortifikasi dengan vitamin atau mineral tertentu, maka kandungan tersebut seharusnya benar-benar ada dan memenuhi standar yang berlaku.
Hasil pengujian laboratorium kemudian menemukan adanya produk yang dinilai tidak sesuai dengan klaim atau standar tersebut. Karena itu, pemerintah menilai masalah ini bukan sekadar persoalan pemasaran, tetapi juga menyangkut informasi yang diterima konsumen.
Informasi pada Label Tidak Sesuai Produk
Menteri Pertanian juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara isi produk dengan informasi yang tercantum pada label.
Hal ini penting karena label menjadi salah satu acuan utama konsumen ketika memilih produk. Konsumen biasanya mengandalkan informasi pada kemasan untuk mengetahui jenis produk, klaim kandungan, mutu, hingga informasi produksi.
Karena itu, produsen perlu memastikan setiap informasi yang dicantumkan benar-benar sesuai dengan kondisi produk yang dijual.
Bukan hanya klaim fortifikasi, tetapi juga informasi lain seperti:
- Kelas mutu.
- Berat bersih.
- Tanggal produksi.
- Kode produksi.
- Nomor batch.
- Keterangan kedaluwarsa.
Informasi tersebut perlu dicantumkan dengan benar, jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Harga Jual Jauh Lebih Tinggi
Pemerintah juga menyoroti harga jual sejumlah beras fortifikasi yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan beras biasa.
Dalam keterangan yang disampaikan pemerintah, terdapat produk yang dijual hingga sekitar Rp57.000 per kilogram, sementara harga pembanding beras yang disebut berada di kisaran Rp13.000 per kilogram.
Perbedaan harga sebenarnya bisa saja terjadi karena proses tambahan, kandungan tertentu, atau positioning produk. Namun, ketika harga yang lebih tinggi disertai klaim fortifikasi, maka klaim tersebut juga harus benar-benar sesuai dengan kondisi produk.
Beras Fortifikasi Harus Sesuai dengan Informasi pada Label

Kasus beras fortifikasi menunjukkan bahwa label bukan sekadar desain pada karung. Informasi yang dicantumkan harus sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya.
Badan Pangan Nasional sebelumnya juga menegaskan bahwa beras fortifikasi perlu memenuhi ketentuan terkait keamanan, mutu, kandungan gizi, serta pelabelan. Artinya, setiap klaim yang dicantumkan pada kemasan harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dibuktikan.
Klaim Fortifikasi Harus Sesuai dengan Kandungan Produk
Jika produsen mencantumkan klaim seperti:
“Fortifikasi Vitamin A, B1, B6, B12, Zat Besi, Zinc…”
maka kandungan tersebut harus benar-benar ada dan sesuai dengan standar atau ketentuan yang berlaku.
Produsen tidak bisa hanya menggunakan istilah “fortifikasi” sebagai nilai jual tanpa memastikan isi produknya benar-benar sesuai dengan informasi pada label.
Hal ini penting karena konsumen menggunakan informasi pada kemasan sebagai salah satu dasar untuk memilih produk.
Label Bukan Sekadar Marketing
Informasi pada karung beras juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menarik perhatian pembeli.
Label membantu konsumen mengetahui:
- Jenis produk.
- Kelas atau mutu beras.
- Kandungan atau klaim tertentu.
- Berat bersih.
- Informasi produsen.
- Informasi produksi.
Karena itu, informasi yang dicantumkan harus jelas, akurat, dan sesuai dengan produk yang berada di dalam kemasan.
Informasi Apa yang Wajib Ada pada Kemasan Beras?
Selain memperhatikan mutu beras, produsen juga perlu memastikan informasi pada kemasan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Mutu dan Label Beras, Pasal 7 mengatur bahwa beras yang diproduksi untuk diedarkan wajib mencantumkan label di dalam dan/atau pada kemasan.
Informasi yang dicantumkan paling sedikit meliputi:
- Nama produk
- Daftar bahan yang digunakan
- Berat bersih
- Nama dan alamat produsen atau importir
- Kelas mutu
- Tanggal dan kode produksi dan/atau tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa
- Asal usul beras
- Nomor pendaftaran, jika dipersyaratkan
- Keterangan halal, jika dipersyaratkan
- Harga Eceran Tertinggi (HET), jika dipersyaratkan
Informasi pada Label Harus Sesuai dengan Produk
Pencantuman informasi tersebut bukan sekadar formalitas. Data pada kemasan harus sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya.
Misalnya, jika pada karung tertulis kelas mutu tertentu, asal beras, klaim fortifikasi, atau informasi produksi tertentu, maka keterangan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan.
Hal yang sama berlaku untuk informasi yang berubah mengikuti proses produksi, seperti:
- Tanggal produksi.
- Kode produksi.
- Nomor batch atau lot.
- Keterangan kedaluwarsa.
Informasi seperti ini penting karena membantu konsumen mengenali produk sekaligus membantu produsen melakukan penelusuran apabila ditemukan masalah pada batch tertentu.
Label Menjadi Bagian dari Identitas dan Traceability Produk
Bagi produsen beras, label juga memiliki fungsi penting dalam proses traceability atau penelusuran produk.
Dengan adanya kode produksi atau informasi waktu produksi yang jelas, produsen dapat lebih mudah mengetahui kapan produk dibuat atau dikemas, dari batch mana produk berasal, dan kelompok produk mana yang perlu diperiksa jika terjadi komplain atau penarikan produk.
Apakah Karung Beras Wajib Mencantumkan Expired Date?

Tidak tepat jika dikatakan bahwa semua karung beras wajib selalu mencantumkan expired date dalam format tanggal lengkap.
Dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Mutu dan Label Beras, label beras wajib memuat tanggal dan kode produksi dan/atau tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa.
Artinya, informasi waktu produksi dan masa simpan menjadi bagian penting dalam pelabelan beras, tetapi bentuk pencantumannya dapat mengikuti ketentuan yang berlaku untuk produk tersebut.
Tanggal dan Kode Produksi
Menurut Pasal 9, tanggal produksi pada beras dapat merujuk pada:
- Tanggal penggilingan.
- Tanggal penyosohan.
- Tanggal pengemasan.
Dengan informasi tersebut, produsen dapat menunjukkan kapan produk diproses atau dikemas.
Contohnya:
Tanggal Produksi: 15 September 2026
Kode Produksi: BR150926A
Kode produksi juga dapat membantu produsen menelusuri batch tertentu jika terjadi komplain, pemeriksaan mutu, atau kebutuhan penarikan produk.
Bagaimana dengan Keterangan Kedaluwarsa?
Untuk beras dengan masa simpan lebih dari tiga bulan, Panduan Implementasi Persyaratan Mutu dan Label Beras dari Bapanas menjelaskan bahwa keterangan kedaluwarsa dapat dicantumkan dalam format bulan dan tahun.
Pencantumannya didahului dengan keterangan:
“Baik digunakan sebelum”
Contohnya:
Tanggal Produksi: 15 September 2026
Baik Digunakan Sebelum: September 2027
Format ini membantu konsumen memahami sampai kapan kualitas produk masih direkomendasikan sesuai kondisi penyimpanan yang ditetapkan produsen.
Informasinya Harus Jelas dan Mudah Dibaca
Yang perlu diperhatikan produsen bukan hanya apakah tanggal tersebut tercantum, tetapi juga bagaimana hasil cetaknya pada karung.
Informasi seperti tanggal produksi, kode produksi, dan keterangan kedaluwarsa perlu ditempatkan di area yang mudah ditemukan dan dicetak dengan jelas agar tidak sulit dibaca.
Tantangan Mencetak Tanggal dan Kode pada Karung Beras

Mencetak tanggal produksi, kode batch, atau keterangan kedaluwarsa pada karung beras memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan mencetak pada botol atau karton.
Karakteristik kemasan beras cukup beragam, mulai dari woven bag, plastik, hingga laminated sack. Permukaannya juga tidak selalu rata sehingga hasil cetak bisa berbeda tergantung material dan metode pencetakan yang digunakan.
Permukaan Karung Tidak Selalu Rata
Karung beras umumnya memiliki tekstur atau lipatan tertentu. Kondisi ini bisa membuat hasil cetak menjadi kurang konsisten jika printer atau tinta yang digunakan tidak sesuai.
Kode bisa terlihat putus, kurang tajam, atau sulit dibaca jika permukaan karung terlalu bertekstur.
Material Kemasan Berbeda-beda
Produsen beras dapat menggunakan beberapa jenis kemasan, seperti:
- Woven bag.
- Plastik.
- Laminated sack.
- Karung dengan lapisan tertentu.
Setiap material memiliki karakteristik permukaan yang berbeda. Tinta yang cocok pada satu material belum tentu memberikan hasil yang sama pada material lainnya.
Karena itu, pemilihan tinta dan teknologi printer perlu disesuaikan dengan kemasan yang digunakan.
Ukuran Kemasan Lebih Besar
Karung beras biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan kemasan makanan pada umumnya.
Hal ini berpengaruh pada:
- Ukuran karakter yang dibutuhkan.
- Jarak baca.
- Area penempatan kode.
- Posisi printer terhadap kemasan.
Jika informasi perlu terlihat dari jarak tertentu, ukuran karakter yang terlalu kecil tentu kurang efektif.
Posisi Coding Bisa Berubah
Saat karung bergerak di conveyor, posisi kemasan tidak selalu berada pada titik yang sama.
Karung bisa sedikit bergeser, miring, atau berubah bentuk selama proses berjalan. Kondisi tersebut dapat membuat area cetak ikut berubah.
Karena itu, sistem coding perlu mempertimbangkan posisi produk agar hasil print tetap berada di area yang diinginkan.
Area Produksi Bisa Berdebu
Proses penggilingan, pengemasan, dan pemindahan beras juga dapat menghasilkan debu.
Debu yang menempel pada permukaan karung atau berada di sekitar area produksi bisa memengaruhi proses pencetakan maupun perawatan mesin.
Karena itu, kondisi lingkungan produksi juga perlu dipertimbangkan sebelum menentukan sistem coding.
Kecepatan Packing Terus Meningkat
Pada produksi kecil, pencetakan tanggal atau kode menggunakan stempel manual mungkin masih memungkinkan.
Namun, ketika kapasitas packing meningkat menjadi ratusan atau ribuan karung, proses manual mulai sulit mengikuti kecepatan produksi.
Jika karung sudah bergerak melalui conveyor, proses coding idealnya dapat dilakukan tanpa perlu menghentikan produk satu per satu.
Data Produksi Sering Berubah
Informasi yang dicetak pada karung juga tidak selalu sama.
Produsen mungkin perlu mengganti:
- Tanggal produksi.
- Kode produksi.
- Nomor batch.
- Lot number.
- Keterangan kedaluwarsa.
Perubahan tersebut bisa terjadi setiap hari atau setiap pergantian batch produksi.
Semakin sering data berubah, semakin penting memastikan informasi yang dicetak tetap sesuai dengan produk yang sedang berjalan.
Hasil Cetak Tetap Harus Mudah Dibaca
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana mencetak kode pada karung, tetapi bagaimana memastikan hasilnya tetap jelas, konsisten, dan mudah dibaca.
Bagaimana Cara Mencetak Expired Date dan Kode Produksi pada Karung Beras?
Cara mencetak tanggal produksi, keterangan kedaluwarsa, batch, atau kode produksi pada karung beras perlu disesuaikan dengan kondisi produksinya.
Produsen dengan volume kecil tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan rice mill yang sudah menggunakan conveyor dan menjalankan proses packing dalam jumlah besar.
Beberapa teknologi yang dapat dipertimbangkan antara lain Handheld Inkjet Printer, DOD Large Character Printer, dan CIJ Printer.
DOD Large Character Printer

Untuk produksi beras dengan kemasan karung berukuran besar, DOD (Drop on Demand) Large Character Printer menjadi salah satu teknologi yang relevan.
Sesuai namanya, printer ini dirancang untuk mencetak karakter berukuran lebih besar sehingga informasi lebih mudah terlihat pada kemasan seperti:
- Karung beras.
- Woven sack.
- Laminated sack tertentu.
- Karton besar.
- Kemasan sekunder berukuran besar.
DOD dapat digunakan untuk mencetak informasi seperti:
PROD 15 SEP 2026
LOT BR150926
BAIK DIGUNAKAN SEBELUM SEP 2027
Ukuran karakter yang lebih besar menjadi keunggulan ketika informasi perlu terlihat jelas pada permukaan karung yang luas.
Untuk rice mill dengan kapasitas produksi lebih besar, DOD juga dapat diintegrasikan ke production line sehingga proses coding dapat berjalan mengikuti proses packing.
CIJ Printer

Pilihan berikutnya adalah Continuous Inkjet Printer (CIJ).
CIJ cocok ketika produksi sudah menggunakan conveyor dan membutuhkan pencetakan variable data dengan ukuran karakter yang relatif lebih kecil.
Teknologi ini dapat dipertimbangkan untuk:
- Production line otomatis.
- Kemasan plastik tertentu.
- Karung dengan permukaan yang sesuai.
- Produk yang bergerak di conveyor.
- Pencetakan tanggal, batch, dan lot secara terus-menerus.
CIJ menggunakan sistem non-contact printing, sehingga printhead tidak perlu menyentuh langsung permukaan kemasan.
Keunggulannya antara lain:
- Produk dapat tetap bergerak saat dicetak.
- Tidak perlu menghentikan line satu per satu.
- Cocok untuk pencetakan variable data.
- Tanggal atau nomor batch dapat disesuaikan mengikuti produksi.
- Dapat digunakan pada line dengan kecepatan produksi yang lebih tinggi.
Handheld Inkjet Printer

Untuk produksi yang masih relatif kecil, Handheld Inkjet Printer dapat menjadi pilihan praktis.
Printer digunakan secara manual dengan menggerakkan printhead langsung pada area karung yang ingin dicetak. Karena itu, teknologi ini tidak membutuhkan conveyor atau sistem produksi otomatis.
Handheld dapat dipertimbangkan untuk:
- Volume produksi rendah hingga menengah.
- Proses coding yang masih manual.
- Karung yang tidak bergerak otomatis.
- Produsen yang baru mulai beralih dari stempel manual.
Informasi yang dicetak misalnya:
PROD: 15/09/2026
LOT: BR150926
BAIK DIGUNAKAN SEBELUM: 09/2027
Keunggulan utamanya adalah portable dan relatif fleksibel digunakan. Namun, karena pengoperasiannya masih bergantung pada operator, konsistensi posisi dan hasil print perlu tetap diperhatikan.
Mana yang Paling Cocok untuk Karung Beras?
Tidak ada satu mesin yang otomatis paling tepat untuk seluruh produsen beras.
Secara sederhana:
| Kondisi Produksi | Teknologi yang Bisa Dipertimbangkan |
|---|---|
| Produksi kecil dan coding manual | Handheld Inkjet |
| Karung besar dan membutuhkan tulisan lebih besar | DOD Large Character |
| Line otomatis dan coding berukuran lebih kecil | CIJ |
Kesimpulan
Penarikan 25 merek beras fortifikasi menjadi pengingat bahwa informasi pada kemasan harus sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya. Bukan hanya klaim fortifikasi, tetapi juga informasi seperti kelas mutu, tanggal produksi, kode produksi, hingga keterangan kedaluwarsa perlu dicantumkan dengan benar dan jelas.
Untuk kemasan beras, Peraturan Bapanas Nomor 2 Tahun 2023 juga mengatur informasi yang perlu dicantumkan pada label, termasuk tanggal dan kode produksi dan/atau keterangan kedaluwarsa sesuai ketentuan.
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Kenapa 25 merek beras fortifikasi ditarik pemerintah?
Pemerintah menemukan adanya dugaan ketidaksesuaian antara kandungan produk, mutu, dan informasi yang dicantumkan pada label. Karena itu, produk tersebut diminta ditarik dari peredaran dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Apa itu beras fortifikasi?
Beras fortifikasi adalah beras yang ditambahkan zat gizi tertentu, misalnya vitamin atau mineral, untuk meningkatkan kandungan nutrisinya.
3. Apakah klaim fortifikasi pada kemasan harus sesuai dengan isi produk?
Ya. Jika produsen mencantumkan klaim vitamin, mineral, atau kandungan tertentu pada kemasan, informasi tersebut harus sesuai dengan kondisi produk yang sebenarnya dan dapat dipertanggungjawabkan.
4. Informasi apa yang wajib ada pada kemasan beras?
Berdasarkan Peraturan Bapanas Nomor 2 Tahun 2023, informasi pada label beras antara lain mencakup nama produk, berat bersih, produsen, kelas mutu, asal beras, serta tanggal dan kode produksi dan/atau keterangan kedaluwarsa.
5. Apakah semua karung beras wajib mencantumkan expired date?
Tidak tepat jika dikatakan semua karung beras wajib selalu mencantumkan expired date dalam format tanggal lengkap. Ketentuannya menyebut tanggal dan kode produksi dan/atau tanggal, bulan, dan tahun kedaluwarsa.
6. Apa yang dimaksud tanggal produksi pada beras?
Tanggal produksi dapat merujuk pada tanggal penggilingan, tanggal penyosohan, atau tanggal pengemasan sesuai ketentuan yang berlaku.
7. Bagaimana cara menulis tanggal kedaluwarsa pada beras?
Untuk beras dengan masa simpan lebih dari tiga bulan, keterangan dapat dicantumkan dalam format bulan dan tahun dengan kalimat seperti “Baik digunakan sebelum September 2027”.
8. Kenapa kode produksi penting pada karung beras?
Kode produksi membantu proses traceability atau penelusuran produk. Produsen dapat lebih mudah mengetahui batch, waktu produksi, atau kelompok produk tertentu jika terjadi komplain atau penarikan produk.
9. Mesin apa yang cocok untuk mencetak tanggal pada karung beras?
Pilihan mesin tergantung kondisi produksi. Handheld Inkjet cocok untuk coding manual, DOD Large Character cocok untuk tulisan besar pada karung, sedangkan CIJ cocok untuk production line otomatis dengan conveyor.
10. Apakah semua jenis karung beras bisa menggunakan mesin coding yang sama?
Belum tentu. Woven bag, plastik, dan laminated sack memiliki karakteristik permukaan berbeda. Karena itu, jenis mesin dan tinta sebaiknya diuji terlebih dahulu pada sampel kemasan asli.



